Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Saturday, April 3, 2010

Waspada Bahan Berbahaya Pada “Pembalut Wanita” dan “Disposable Diapers”!

Penulis : FITRI TASFIAH


Hati-hati untuk para wanita dalam memilih produk yang bersentuhan dengan organ vital anda. Ketika saya iseng-iseng gogling untuk mengetahui apa itu DIOXINS? keluar sederet list artikel dari beberapa milis yang isinya masih satu benang merah, bahkan nyaris sama! Saya terkejut dengan apa yang saya baca. Ternyata sebuah pembalut itu tidak sepenuhnya aman. Semula saya berpikir kalau suatu produk yang sudah beredar di masyarakat, khususnya tersebar di tempat-tempat tertentu, seperti supermarket dan apotek sudah terjamin. Bukankah produk yang beredar harus teregistrasi di BPOM dan melalui uji klinis?

Semula saya akan menguraikan kembali apa itu DIOXINS ? DIOXIN adalah sebuah hasil sampingan dari proses bleaching (pemutihan) yang digunakan pada pabrik kertas, termasuk pabrik pembalut wanita, tissue, sanitary pad dan diaper.Bagaimana Dioxin tersebut bisa meresap ke dalam rahim ?
Bila darah haid (bersifat panas) jatuh ke permukaan pembalut , maka zat dioxin akan dilepaskan melalui proses penguapan. Uap tersebut pertama-tama akan mengenai permukaan vagina, kemudian diserap ke dalam rahim melalui saluran Serviks, lalu masuk ke uterus, melalui tuba fallopi dan berakhir di ovarium.Sehingga menyebabkan : kanker leher rahim, gatal2, myoma dll.

Pembalut yang biasa kita pakai ternyata terbuat dari kertas /sampah daur ulang dan mengandung DIOXIN.
Konggres (DPR) di Amerika Serikat sedang mempersiapkan Undang-undang pelarangan pemakaian pemutih pada pembalut dan pemakaian bahan daur ulang. http://womenscancercenter.com/cancercosts/hr890.html ttg Tampon Safety and Research Act of 1999 (Introduced in the House)HR 890 IH

Beberapa negara maju pembalut semacam ini dilarang beredar. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Sepertinya orang awam seperti saya mendapat kurang sosialisasi mengenai ini. Buktinya, saya sendiri baru tahu ketika mencari tahu sendiri di milis-milis yang ada. Industri pembalut tetap menjual produk mereka dengan harga yang sangat murah dan berkualitas rendah karena tidak memakai bahan kapas melainkan berbahan dasar sampah kertas daur ulang dan pemutih.

Menurut WHO, Indonesia merupakan negara dengan penderita kanker mulut rahim NO.1 di dunia , dan 62% salah satunya diakibatkan oleh penggunaan produk pembalut yang tidak berkualitas. Di RSCM: 400 pasien kanker leher rahim baru setiap tahunnya, dan itu baru dari satu rumah sakit dan kematian akibat kanker serviks sekitar 66%. Mayoritas penderita datang dalam kondisi stadium lanjut. Tingkat kesadaran deteksi dini masih rendah. Setiap satu jam ada penambahan penderita kanker mulut rahim di Indonesia. Tanpa kita sadari, bisa saja kita meracuni daerah kewanitaan kita sendiri. Pernakah anda membayangkan sebelumnya pembalut yang biasa kita pakai ternyata terbuat dari kertas /sampah daur ulang dan mengandung DIOXIN yang dapat mengancam kesehatan kita seperti yang tertulis diatas?

Lalu, bagaimana dengan Dispoable Diapers?
Ternyata diapers untuk anak tidak bisa dianggap seluruhnya aman. menurut milis yang saya baca http://valsco.blogspot.com/2009/11/bahan-kimia-berbahaya-dalam-disposable.html Diapers bayi pasti menjanjikan permukaan selalu kering. Mengapa? Sodium Polyacrylate memang bisa bekerja sebagai super absorbent yang hebat, bahan yang berbentuk serbuk sebelum dicampurkan pada lapisan dalam disposable diaper memiliki daya serap lebih dari 100 kali dari beratnya di dalam air. Bahan kimia inilah yang mengubah cairan menjadi gel yang akan menempel di kulit bayi dan menimbulkan reaksi alergi. Disamping itu, bahan ini juga dicurigai sebagai biang keladi iritasi kulit dan demam. Anak-anak bisa terbunuh jika menelan 5 gram Sodium Polycrylate. Selain itu, bahan ini juga merusak daya tahan tubuh dan menurunkan berat badan para pekerja pabrik yang memproduksinya.
Tributyl Tin (TBT) juga termasuk bahan yang digunakan dalam produksi disposable diaper. Bahan kimia ini selain menyebabkan pencemaran lingkungan juga sangat beracun. Penyebarannya bisa melalui kulit, jadi bisa dibayangkan tingkat bahayanya kalau kulit bayi yang sensitif memakai diaper yang mengandung TBT. Karena saking beracunnya bahan kimia ini dalam konsentrasi yang sangat kecil pun bisa mengakibatkan gangguan hormon disamping mengganggu sistem kekebalan tubuh. Tak tanggung-tanggung, orangtua yang memiliki bayi laki-laki perlu waspada karena bahan ini bisa menyebabkan kemandulan (pada bayi laki-laki). Ginny Caldwell dalam artikelnya yang berjudul Diapers. Disposable or Cotton?, menyatakan bahwa kerusakan dalam sistem saraf pusat, ginjal dan lever bisa disebabkan oleh bahan-bahan kimia berbahaya yang ditemukan dalam disposable diaper.

Sepertinya kita sebagai wanita perlu lebih waspada dalam memilih produk terutama jika produk tersebut dapat mengeancam kesehatan kita dan anak kita. Untuk pengujian apakah terbuat dari pulp/kertas daur ulang sbb :

Sobek produk pembalut Anda, ambil bagian inti dalamnya.Ambil segelas air putih di dalam gelas transparan. Ambil sebagian dari lembaran inti pembalut Anda dan celupkan ke dalam air tersebut. Aduk dengan sumpit.Lihat perubahan warna air (karena kalo higienis dan bersih, seharusnya air akan tetap jernih). Lihat apakah produk tersebut tetap utuh atau hancur seperti pulp. Jika hancur dan airnya KERUH, berarti Anda menggunakan produk yang kurang berkualitas, dan banyak mengandung zat pemutih (DIOXIN).

Lalu bagaimana untuk uji Disposable Diapers? Hingga tulisan ini saya keluarkan, saya masih belum mengetahuinya. Bahkan rupanya popok kain memang jauh lebih aman. Sebenarnya bisa saja pemerintah mengeluarkan undang-undang seperti di negara maju, tapi kita juga tidak mau kesehatan terancam karena mengandalkan suatu perubahan yang sepertinya akan memakan waktu panjang (bahkan bisa saja tidak akan ada).

Take care your self and your family! Semoga berguna.

caradetoksalami : MAU DIAPERS YG AMAN? pakai NATESH SANITARY PADS OK Tunggu apalagi? Pesan Sekarang Juga

Friday, April 2, 2010

"Obat BUKAN JAWABAN" - Dr. Tan Shoat Yen

*"Obat BUKAN JAWABAN"*

(Dari Majalah "PESONA" Maret 2010, Halaman 80 -- 82)

Ia mendidik pasiennya agar mengubah gaya hidup. Prinsipnya, pasien harus punya otonomi terhadap tubuh sendiri. Cobalah berkunjung ke klinik dr. Tan Shot Yen di wilayah Bumi Serpong Damai pada pukul 11 di hari kerja. Anda akan melihat dr. Tan menghadapi beberapa pasien. Sekilas, Anda mungkin berpikir dokter sedang marah-marah. Padahal ia sedang menjelaskan tentang gaya hidup sehat pada pasien barunya.  Pasalnya, memang begitu gaya dr. Tan, menjelaskan dengan suara keras. Bila kita simak ucapannya, semua yang dijelaskannya sangat penting dan membukakan mata.

"Kesalahan pasien dalam berobat hanyalah mencari tahu 'bagaimana'. Bagaimana caranya menurunkan tensi, menurunkan kadar gula, menguruskan badan, menghilangkan senewen atau sakit di jemari. Jika Anda Cuma tanya 'bagaimana', Anda akan jatuh menjadi sekadar konsumen. Pertanyaan terpenting adalah mengapa Anda sampai sakit?" urainya.

Wanita 45 tahun ini memang tak mau punya pasien yang yang mengharapkan pil atau tongkat ajaib untuk membereskan tubuhnya. "Saya mau pasien yang *taking ownership of their own body*. Itu badan anda. Buat apa dokter yang sok tahu menyuruh ini-itu?* Yang benar buat dokter belum tentu benar buat Anda*." Wah, dokter yang satu ini tampaknya memang lain dari yang lain.

*Mendorong Gaya Hidup Sehat

*Perbedaan mencolok dr. Tan dibanding dokter lain pada umumnya adalah ia tidak mudah memberi obat. Rata-rata pasien yang keluar dari ruang prakteknya tidak menggenggam resep. Kalaupun ada resep, biasanya hanya vitamin dan omega-3, tergantung kondisi pasien.

"Sampai kapan seseorang mau tergantung pada obat-obatan? Apakah setelah mengonsumsi obat dia benar-benar sembuh? Jawabannya tidak. Karena begitu obat berhenti, dia sakit lagi. Berapa banyak dokter hanya bertanya 'sakit apa' lalu berkata 'ini obatnya'? Dia tidak memberikan pendidikan atau menjelaskan asal usul penyakit. *Pasien juga bego, padahal dia harusnya memahami perannya dalam menciptakan penyakitnya* ," jelas dr. Tan.

Sebagai ganti resep, dr. Tan memberikan pencerahan tentang gaya hidup sehat yang harus dijalani setiap orang. „Saya yakin semua dokter tahu bahwa diabetes, stroke, dan kanker adalah penyakit gaya hidup. Tapi pertanyaannya, seberapa jauh seorang dokter mau fight untuk memperbaiki gaya hidup pasiennya? Karena,
penanganan pertama pasien seharusnya perubahan gaya hidup. Bila gagal, baru obat-obatan boleh dicoba."

Dr. Tan mencontohkan, pasien yang sakit lutut akan disuruh minum obat, dioperasi, atau diganti tempurung lututnya. Padahal, titik beratnya adalah bobot tubuhnya. Jika si Pasien mengubah pola makan dan gaya hidup, berat badannya susut dan keluhan lututnya akan hilang. "Ibaratnya, mobil Mercedes pasti turun mesin kalau diisi bensin bajaj. Coba ganti dengan bensin super, pasti larinya kencang."

Perubahan pola makan yang dianjurkan dr. Tan mungkin terdengar ekstrem. Ia mengimbau pasiennya untuk berhenti mengonsumsi *gula, terigu, nasi, dan pati (singkong, kentang, ubi, jagung, taloas).* Pasalnya, di dalam tubuh, jenis makanan ini akan diproses 100% menjadi gula dalam waktu dua jam. Benar, manusia butuh gula untuk energi. Tapi kenaikan kadar gula darah akibat empat jenis makanan ini sangat cepat, mengakibatkan insulin melonjak untuk menekan kenaikannya. Bersama insulin, keluar pula hormon *eicosanoid* *buruk*. *Akibatnya, pembuluh darah menyempit, darah kental, daya tahan buruk, tubuh 'memelihara' bakteri, jamur, kista, tumor, dan kanker, serta timbul nyeri*.

Sebagai ganti nasi, ia meresepkan: *satu ikat selada mentah atau dua cangkir brokoli setengah matang, 2 putih telur rebus, 2 tomat, 2 mentimun, setengah avokad, apel, atau* *pear*. Dengan makanan ini, tak ada sisa gula yang tersimpan menjadi lemak. Kadar gula darah sebelum dan sesudah makan pun rata-rata sama. Dan, hormon *eicosanoid* *buruk* takkan keluar sehingga tak mengundang penyakit. 'Menu' ini perlu dilengkapi lauk-pauk yang diolah dengan berbagai cara, *asal tidak** ditumis atau digoreng. *"Kita makan sayur bukan hanya demi seratnya. Sayur mentah mengandung enzim dengan life force energy yang penting buat tubuh. Inilah pola makan asal yang sesuai fitrah manusia. Siapa bilang tidak makan nasi jadi lemas? Nenek moyang kita makan sayur dan buah tapi mereka kuat mendaki gunung dan berburu."

*Sakit adalah Introspeksi
*Hal lain yang menarik dari dr. Tan adalah gelar M. Hum. Gelar itu didapat setelah ia mengambil  pascasarjana filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, tahun lalu. Menurutnya, kuliah S2 filsafat membuatnya memahami manusia secara mendalam dan holistic. Ia juga jadi mengerti 'dosa ilmu kedokteran' tentang mekanisasi tubuh manusia.

"Akibat perkembangan ilmu kedokteran – terutama setelah ditemukannya alat pacu dan cangkok jantung, tubuh manusia yang tadinya holistic lalu dipecah-pecah. Kalau kepala sakit yang diobati, ya kepala saja. Kita terlepas dari tubuh, emosi dan kecerdasan spiritual. *Tubuh manusia hanya jadi seperangkat mesin*. Kalau ada yang salah, kita pergi kebengkel. Dan, rumah sakitlah bengkel terbesarnya. Betul, badan manusia terlalu kompleks untuk dipegang satu ahli saja. Manusia boleh dipegang beberapa ahli, asal mereka sama-sama sadar bahwa manusia diciptakan Tuhan. *Masalahnya* , dokter punya *arogansi profesi*. *Seorang dokter biasanya susah dibilangin dan selalu merasa benar,*" tuturnya lugas.

Dr. Tan juga menyayangkan bila manusia zaman sekarang mati-matian melawan dan menolak sakit. Padahal, *sakit* adalah *jalan untuk lebih memahami*bahwa *manusia tak selamanya di posisi atas.

"Sakit adalah introspeksi. Ketika sakit, saya berhenti dan menoleh kebelakang. *Apa yang 'jalan' dan 'nggak jalan' selama ini?* Nah, menjadi * sembuh* adalah keberhasilan introspeksi dan menemukan cara untuk lebih maju lagi. Tapi bagaimana pasien bisa introspeksi bila tak dibimbing menemukan kesembuhannya dan hanya dininabobokan oleh obat? Dunia yang mati rasa dan tak mau mengalami sakit adalah dunia yang melarikan diri, mengingkari diri sendiri," lanjutnya.

Menurut dr. Tan, kita me*masuki era kebablasan *mengonsumsi obat. Akhirnya, obat dijadikan demand. Setelah demand melambung tinggi, masyarakat digenjot untuk mendapatkan penghasilan lebih yang tak perlu demi obat. Lihatlah berapa banyak orang yang harus berusaha mati-matian demi keperluan berobat salah satu anggota keluarga.

*Selalu Ingin Jadi Dokter

*Dr. Tan Shot Yen lahir di Beijing, 17 September 1964 dan dibesarkan di Jakarta.  Ia kuliah di Fakultas Kedokteran Universistas Tarumanegara dan lulus Profesi Kedokteran Negara FKUI pada tahun 1991.  Sebagai siswi yang selalu mendapat nilai cemerlang dalam ilmu eksakta, menjadi dokter merupakan impiannya sejak dulu. Baginya, dibidang kedokteran, cara pikirnya yang eksakta bisa menemukan 'kemanusiaannya' . Dalam diri pasien, ia menemukan benang merah antara fisik, emosi dan spiritual.

Ketika baru menjadi dokter, saya juga ngaco. Sekadar memberi obat pada pasien. Lama-lama saya pikir saya cuma perpanjangan pabrik obat," kenangnya. Lalu ia pelan-pelan lebih menggunakan gaya hidup sehat. Perubahan ini dipicu oleh ayahnya, *dr. Tan Tjiauw Liat*, tokoh inspiratif yang membuatnya maju untuk melihat apa sebenarnya kebutuhan manusia.

Melihat begitu berapi-apinya dr. Tan saat memberikan pencerahan gaya hidup pada pasien, siapapun mungkin akan bertanya 'apa tidak capek?'. "Lebih capek mana dibandingkan dokter yang ditunggangi perusahaan obat dan makanan? Saya mendapat energi bila melihat pasien sembuh. Mereka *memegang kendali atas hidup mereka, tidak dibohongin dokter, dan tidak tergantung obat*," jawabnya.

Dr. Tan mengakui, sepak terjangnya kerap dipandang sebelah mata oleh koleganya. "Ada yang bilang saya idealis, bahkan mission impossible. Tapi saya yakin, dalam hati kecil mereka mengatakan bahwa perubahan gaya hiduplah jawabannya. Masalahnya, mereka sendiri tidak menjalani gaya hidup itu. Ini membuat saya sebal. Kalau mereka merasa tidak bisa menjalani gaya hidup sehat, jangan mengecilkan pasien dengan menganggap pasien juga takkan bisa. Pasien yang sudah parah dikasih obat apapun pasti mau. Apalagi Cuma disuruh Apalagi Cuma disuruh ganti nasi dengan sayur."

*Keluarga terpengaruh

*Pola makan asal yang meniadakan gula, trigu, nasi, pati dan susu yang dijalani dr. Tan juga dilakukan oleh suami – Henry Remanleh – dan anak tunggalnya, Cilla. Menurut dr. Tan, mereka tidak menjalaninya karena terpaksa, tapi karena merasakan manfaatnya. "Putri saya 17 tahun, kadang terpengaruh pola makan temannya. Dia lalu mengeluh susah konsentrasi atau pencernaannya terganggu. Setelah itu dia back on track. Dia sudah mengonsumsi raw food sejak SMP atas pilihan sendiri. Anak itu mencontoh orang tuanya. Jangan harap anak makan dengan baik kalau Anda sendiri amburadul."

Suaminya, Henry, adalah kinesiologis yang berkutat dengan masalah gerak dan pengaruhnya terhadap aspek kehidupan manusia. Henry juga instruktur brain gym. Ia berpraktek di tempat yang sama. Dr. Tan sangat menghargai pekerjaan suaminya karena memberdayakan masyarakat. "Brain gym terbukti bisa meningkatkan konsentrasi. Dengan pola makan sehat sejak kecil dan gerakan olahraga terstruktur, Anda tak perlu lagi minum obat," katanyaa tegas.

Selain sibuk berpraktik dan menjadi pembicara talkshow, dr. Tan menjadi contributor untuk tabloid dan majalah kesehatan. Selain itu, ia mengisi waktunya dengan membaca dan membuka jalur continuing medical education melalui internet. Karena itu, info dan data jurnal ilmiahnya selalu up to date – disamping buku-buku terbaru pemberian ayahnya.

Ia menjalani pilates, terkadang berenang, dan sesekali bermain piano. Kini ia sedang mengumpulkan kisah-kisah kamar paraktek untuk dijadikan tulisan inspiratif agar para dokter memandang pasien lebih dari sekumpulan diagnosis.

Wah, sepertinya semangat dalam tubuh mungil ini seolah melonjak-lonjak dan tak pernah padam. Maju terus dr. Tan!

sumber : milis yahoo

Thursday, August 9, 2007

Kala Radikal Bebas Gempur Tubuh

======================================================================
Kala Radikal Bebas Gempur Tubuh
Oleh trubus lihat berita aslinya disini
Selasa, 10 Juli 2007 10:35:45 Klik: 157 Kirim-kirim Print version

Di usianya yang ke-79, kini Surita Sutiaty benar-benar menikmati hari tua. Hari-harinya ia habiskan dengan berkumpul bersama anak dan cucu di Jakarta. Delapan belas tahun silam, jangankan bepergian ke ibukota yang terletak ribuan kilometer dari kampung halamannya di Medan, Sumatera Utara. Setiap hari ia hanya merebahkan diri di pembaringan.



Derita itu Surita alami sejak divonis diabetes mellitus oleh dokter salah satu rumahsakit di Medan. Hasil diagnosis menunjukkan, kadar gula darah melambung hingga 500 mg/dl, normal 70-110 mg/dl. Tingginya kadar gula darah menyebabkan Surita pingsan. Oleh sebab itu, dokter menyarankan agar ia dirawat inap.

Dua pekan lamanya Surita dirawat di rumahsakit. Selama perawatan, ibu 3 anak itu memperoleh pengawasan ketat. Ia mesti menjalani diet untuk mengontrol kadar gula darah. Setiap menjelang tidur, perawat menyuntikkan 12 unit insulin ke bagian kanan pinggang Surita. Tujuannya untuk mengontrol kadar gula dalam darah. Sayangnya faedah insulin hanya bertahan 24 jam. Artinya, agar kadar gula darah tetap terkontrol, Surita mesti disuntik ulang setiap hari. Sejak itulah Surita menggantungkan hidup pada seujung jarum.

Tergantung insulin

Lebih dari satu setengah dekade Surita menjalani hidup dengan diabetes mellitus. Selama itu pula insulin menjadi bagian hidupnya. Ia hanya bisa pasrah. 'Saya sadar keadaan saya tidak dapat disembuhkan. Tetapi saya berharap kondisi kesehatan saya tidak memburuk,' ujarnya. Oleh sebab itu, ia rutin memeriksa darah setiap pekan untuk mengontrol kadar gula.

Harapan kesembuhan datang ketika salah seorang rekan menjumpai Surita pada pertengahan 2005. Ia menawarkan suplemen yang mengandung enzim mirip superoksid dismutase (SOD), salah satu enzim antioksidan yang berperan menangkal radikal bebas dalam tubuh. Suplemen itu dikonsumsi 3 kali sehari masing-masing 2 sachet isi 3 g.

Dua bulan berselang, kondisi tubuh Surita mulai membaik. Kadar gula darah mulai menurun pada kisaran 148-154 mg/dl. Ia pun mengurangi dosis insulin yang semula 12 unit per hari menjadi 10 unit. Bulan berikutnya berkurang menjadi 8 unit per hari. Setelah 5 bulan mengkonsumsi, Surita hanya menggunakan 6 unit setiap harinya.

Lantaran merasa kondisi tubuhnya kian membaik, Surita mengurangi konsumsi SOD like processed dietary food-sebutan suplemen itu-menjadi 3 kali sehari masing-masing 1 sachet per hari. Sejak 6 bulan silam, Surita berhenti menyuntik insulin karena kadar gula darah stabil di angka 150 mg/dl.

Kanker

Faedah SOD tak hanya dirasakan Surita. Nun di Yogyakarta, dr Andu Sufyan merasakan khasiat antioksidan itu. Tumor berdiameter 1 cm di lengan kirinya hilang setelah 5 pekan mengkonsumsi SOD.

Tumor di lengan kiri dr Andu mulanya berupa bintil hitam berdiameter sekitar 3 mm. Ia menduga bintil itu hanyalah tahi lalat. Namun, 2 bulan berselang, bintil membesar hingga berdiameter 1 cm dan berair. Sebagai dokter ia tahu betul pembesaran bintil itu gejala melanoma malignant atau kanker kulit.

Salah satu cara untuk mengobatinya yaitu dengan radiasi. Lantaran khawatir berefek buruk, dr Andu enggan memilih cara pengobatan itu. 'Radiasi dapat berefek lemas, pusing, dan mual,' ujarnya. Namun, bila dibiarkan, ia cemas kanker itu bermetastesis atau menyebar dan menyerang organ tubuh lain.

Di tengah kecemasannya Andu teringat seseorang yang memperkenalkan SOD. Beruntung Andu menyimpan nomor telepon kenalannya itu. Meski sempat ragu, ia akhirnya memesan SOD. Suplemen kesehatan itu dikonsumsi 2 kali sehari: pagi ketika bangun tidur dan malam sebelum tidur. Dosis masing-masing 1 sachet isi 3 g.

Baru sepekan mengkonsumsi, bintil yang semula berair mengering dan mengelupas. Empat pekan kemudian bintil itu benar-benar hilang tanpa bekas. Namun, ia tetap mengkonsumsi SOD minimal 1 sachet per hari untuk mencegah sel kanker kembali menyerang.

Keampuhan SOD mengatasi kanker juga dirasakan Rahmat Hidayat di Padang, Sumatera Barat. Pada September 2006, pria 18 tahun itu divonis mengidap kanker sel darah putih alias leukemia. Sel kanker itu terus-menerus menggerogoti tubuhnya hingga menyebabkan koma. Rahmat pun diboyong ke RS Dharmais, Jakarta Barat. Hasil pemeriksaan menunjukkan, kadar leukosit mencapai 12.400/µl, normal 5.000-10.000/µl. Dokter menyarankan agar Rahmat menjalani kemoterapi.

Namun, kemoterapi justru membuat kondisi tubuh Rahmat makin memburuk. Bobot tubuh yang semula mencapai 60 kg, anjlok menjadi 36 kg. 'Rambut saya juga rontok,' katanya. Pada saat itulah salah seorang anggota keluarga menawarkan suplemen SOD.

SOD dikonsumsi berdampingan dengan kemoterapi berdosis 3 kali sehari masing-masing 1 sachet. Suplemen dikonsumsi sejam setelah mengkonsumsi obat-obatan terapi agar efek masing-masing tidak saling menetralkan. Dua pekan mengkonsumsi, kondisi tubuh Rahmat mulai membaik. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan, kadar leukosit kembali normal, 7.300/µl. Bahkan, tiga bulan berselang, efek buruk kemoterapi benar-benar sirna. Tubuh yang semula hanya tulang berbalut kulit itu mulai pulih. Dengan tinggi tubuh 155 cm, kini bobotnya mencapai 55 kg. 'Rambut saya juga tidak rontok lagi,' ujarnya.

Radikal bebas

Diabetes dan kanker salah satu dari sekian banyak penyakit akibat gempuran radikal bebas. Radikal bebas merupakan molekul oksigen yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan sehingga sangat reaktif. Menurut Yukie Niwa MD PhD, ahli immunologi di Jepang, dalam bukunya Free Radicals Invite Death, sifat radikal bebas yang mudah bereaksi sebetulnya diperlukan tubuh untuk mengikat benda asing seperti bakteri, lalu menghancurkannya.

Kadar radikal bebas dalam tubuh terus meningkat seiring bertambahnya jumlah radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh. Polusi udara dan rokok salah satu sumber utama zat berbahaya itu. Ketika jumlahnya melebihi kebutuhan tubuh, radikal bebas tak hanya menyerang bakteri dan benda asing lainnya, tetapi juga merusak sel-sel tubuh. Salah satunya sel pankreas sehingga menyebabkan produksi insulin terhambat. Akibatnya, kadar gula darah melambung. Radikal bebas juga menyebabkan kelainan pada sel-sel tubuh sehingga sel berkembang tak terkendali dan muncullah tumor dan kanker.

Tatkala radikal bebas merajalela di dalam tubuh, sejumlah enzim seperti superoksid dismutase (SOD), katalase, dan glutathione peroxidase (GSH-Px), bahu-membahu menghalau perusak sel tubuh. Sayang, jumlah ketiga enzim itu terus berkurang seiring bertambahnya usia. Sedangkan radikal bebas terus-menerus menumpuk di dalam tubuh. Saat itulah tubuh memerlukan antioksidan. Antioksidan menyumbang elektron agar berpasangan dengan radikal bebas sehingga tak lagi mengancam sel-sel jaringan tubuh.

Menurut Niwa, tak semua antioksidan dapat diserap tubuh. Salah satunya jenis-jenis antioksidan yang berbobot molekul rendah seperti vitamin A dan E. Meski keduanya mudah dicerna, reseptor sel pada jaringan tubuh adakalanya tak mengenali antioksidan itu.

Pasalnya, kedua vitamin itu tidak diselimuti lemak sehingga tidak dapat menembus membran lemak pada dinding sel. Akibatnya, jumlah antioksidan yang diserap sangat minim, 20-30% dari total konsumsi. Apalagi bila antioksidan masih terikat dengan senyawa kompleks dalam buah atau sayuran segar. Tubuh mesti bekerja keras memilah-milah hingga akhirnya antioksidan terurai lalu dicerna.

Induksi insulin

Dr Ir M. Ahkam Subroto, MAppSc, peneliti utama Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi LIPI, menuturkan, konsumsi vitamin A dan E akan lebih efektif bila dikonsumsi bersama lemak. 'Oleh sebab itu, konsumsi lemak sebetulnya diperlukan tubuh. Asalkan tidak terlalu berlebihan. Maksimal 2% per hari,' ujarnya.

Permasalahan itulah yang mendorong Niwa untuk meneliti teknologi yang dapat menghasilkan senyawa serupa antioksidan seperti superoksid dismutase (SOD). Setelah melewati penelitian panjang selama lebih dari 15 tahun, mimpi Niwa akhirnya terwujud. Ia berhasil menemukan ramuan berbahan alami yang aktivitas senyawanya mirip SOD dalam tubuh. Senyawa itu diperoleh dari bahan alami seperti kedelai, wijen, gandum, kulit beras, teh hijau, jeruk yuzu, dan jamur koji.

Seluruh bahan dipanaskan dengan sinar infra merah untuk memutus rantai antioksidan yang berikatan dengan elemen lain. Bahan-bahan itu kemudian difermentasi dengan jamur koji Aspergillus oryzae untuk mengaktifkan komponen antioksidan. Tahapan terakhir, antioksidan dilapisi minyak wijen. Tujuannya untuk merekayasa molekul antioksidan agar mirip dengan lemak pada membran sel sehingga mudah diserap sel.

Lalu, bagaimana cara kerja SOD mengatasi kanker dan diabetes? Menurut Ahkam, sifat antioksidan seperti SOD tidak langsung mematikan sel kanker. SOD berfaedah memperbaiki metabolisme tubuh sehingga menciptakan lingkungan yang tidak nyaman bagi pertumbuhan sel kanker. Akibatnya, pertumbuhan sel kanker terhenti dan akhirnya mati.

Bagi penderita diabetes, SOD berperan menginduksi insulin sehingga produksinya lebih banyak. SOD juga berfaedah mendongkrak aktivitas insulin menangkap gula sehingga tidak menumpuk di dalam darah. Oleh sebab itulah Surita tetap menjalankan pola hidup sehat agar gula darah tak lagi melambung. (Imam Wiguna/Peliput: Kiki Rizkika)











































































Statistik




Tracked by Histats.com

















Klik: 1058 Kirim-kirim Print version