Thursday, August 9, 2007

Antioksidan, Radikal Bebas, dan Penuaan

Antioksidan, Radikal Bebas, dan Penuaan

BAGI Waljinah (57), penyanyi keroncong tembang Jawa, keriput mulai muncul masa usia tua bukanlah sesuatu perlu diresahkan. Kerut-kerut di kulitnya justru penanda kesemarakan hidup yang pernah dilaluinya. Tak heran, meski telah bercucu enam, nenek ini tetap berparas segar. "Resepnya, ya selalu gembira, nrimo ing pandum (penuh rasa syukur), dan mungkin karena sejak gadis rajin minum jamu," tutur Waljinah.

SEPERTI dimaknai Waljinah, menjadi tua adalah takdir, hukum alam yang tak dapat ditepis. Ketika kehidupan itu dimulai meski ia baru berupa noktah sel embrio, proses penuaan pun serta-merta berlangsung. Namun, kini para ahli dengan segala kecanggihan penemuannya berteori, proses takdir itu dapat diperlambat. Tersebutlah sebuah zat bernama antioksidan. Lalu, seberapa jauh sebenarnya peran si antioksidan itu?

Antioksidan merupakan zat yang anti terhadap zat lain yang bekerja sebagai oksidan. Zat lain itu populer disebut radikal bebas, yaitu suatu molekul oksigen dengan atom yang pada orbit terluarnya memiliki elektron yang tidak berpasangan. Karena kehilangan pasangannya itu, molekul lalu menjadi tidak stabil, liar, dan radikal.

"Akibatnya, ia selalu berusaha mencari pasangan elektron, tetapi dengan cara yang radikal, yaitu merebut elektron dari molekul lain tanpa pandang bulu. Makanya ia disebut radikal bebas atau reactive oxygen species (ROS)," kata ahli Biokimia Dr Mohamad Sadikin DSc dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Perbuatan si radikal bebas ini berakibat destruktif bagi molekul sel lain yang elektronnya dirampas. Parahnya, aksi perampasan elektron itu menimbulkan reaksi berantai sehingga radikal bebas terlahir semakin banyak. Radikal bebas merusak molekul makro pembentuk sel, yaitu protein, karbohidrat (polisakarida), lemak, dan deoxyribo nucleic acid (DNA).

Akibatnya, sel menjadi rusak, mati, atau bermutasi. Peristiwa itu menjadi salah satu penyebab berbagai penyakit degeneratif seperti kanker dan penuaan sel. Pada sel kulit, misalnya, radikal bebas akan merusak senyawa lemak pada membran sel. Lalu, kulit kehilangan ketegangannya (rigor) dan muncullah keriput.

Sadikin menjelaskan, peran jahat radikal bebas ini bukan berarti ia boleh dienyahkan. Sebab, akhirnya para ahli menemukan, radikal bebas dalam kadar tertentu justru diperlukan untuk pertahanan tubuh. Ketika kuman masuk ke dalam tubuh, sel darah putih (lekosit) akan menghancurkan dan memakan kuman dengan bantuan si radikal bebas.

"Seperti filosofi Yin dan Yang. Dalam keburukan si radikal bebas, ada setitik kebaikan yang sangat esensial," kata Sadikin. Masih berprinsip pada keseimbangan Yin dan Yang, keseimbangan komposisi antara radikal bebas dan antioksidan mutlak diperlukan di dalam tubuh.

Bagaimana bisa muncul radikal bebas ini? Radikal bebas muncul sebagai konsekuensi dari adanya kehidupan itu sendiri. Setiap makhluk hidup perlu energi untuk bertahan hidup. Makhluk hidup, termasuk manusia, akan selalu memproduksi radikal bebas sebagai produk samping dari proses pembentukan energi.

Energi itu diperoleh dari proses metabolisme dengan mengoksidasi (membakar) zat-zat makanan, seperti karbohidrat, lemak, dan protein. Zat-zat itu akan dikonversi menjadi senyawa pengikat energi atau Adenosin Triphospat (ATP) melalui proses metabolisme dengan bantuan oksigen. Dalam proses oksidasi itulah radikal bebas (ROS), yaitu anion superoksida dan hidroksil radikal turut terproduksi.

Selain lahir dari proses metabolisme, radikal bebas juga muncul pada setiap kejadian pembakaran, misalnya merokok, memasak, juga aktivitas pembakaran bahan bakar pada mesin dan kendaraan bermotor. Ketika sinar ultraviolet menerpa suatu benda terus-menerus, elektron atom benda tersebut akan meloncat dari orbitnya, dan terciptalah radikal bebas.

Singkatnya, radikal bebas akan selalu bertebaran di mana-mana. Api adalah radikal bebas yang dapat dilihat dengan mata. Layaknya radikal bebas, sifat api pun sangat reaktif dan sulit dikendalikan jika merajalela.

Supaya radikal bebas tidak merajalela, tubuh dengan sendirinya spontan memproduksi zat antioksidannya. Antioksidan yang diproduksi dari dalam tubuh (endogen) berupa tiga enzim yaitu, superoksida dismutase (SOD), glutation peroksidase (GSH Px), katalase, serta non enzim, yaitu senyawa protein kecil glutation.

Ketiga enzim dan senyawa glutation itu bekerja menetralkan radikal bebas. Pekerjaannya itu dibantu oleh asupan antioksidan dari luar (eksogen) yang berasal dari bahan makanan. Misalnya, vitamin E, C, betakaroten dan senyawa flavonoid yang diperoleh dari tumbuhan.

Ahli gizi dari Pusat Kajian Gizi Fakultas Kedokteran UI dr Victor Tambunan MS menjelaskan, dalam proses melumpuhkan radikal bebas, peran antioksidan eksogen sangat sistematis. Pertama-tama vitamin E akan menangkap (scavenging) radikal bebas. Malangnya, vitamin E itu lalu berubah menjadi vitamin E radikal sehingga perlu pertolongan vitamin C.

Apa boleh buat, setelah menangkap vitamin E radikal, si vitamin C malah ikut menjadi vitamin C radikal juga. Akhirnya, barulah glutation yang mampu menetralkan vitamin C radikal menjadi senyawa yang lebih kalem tanpa menjadikan dirinya turut radikal.

LALU, perlukah kita menambah suplemen antioksidan untuk mengatasi keliaran si radikal bebas? Jawaban akhirnya akan normatif. Suplemen antioksidan yang populer di pasaran, yaitu vitamin C, E, dan betakaroten. Namun, fakta perlu diketahui, hingga saat ini para ahli masih sulit memastikan berapa komposisi yang seimbang antara radikal bebas dan antioksidan di dalam tubuh.

Dengan demikian, otomatis dosis suplemen antioksidan yang tepat juga belum dapat dipastikan. Sementara beberapa studi menunjukkan, kelebihan antioksidan justru merugikan hingga membahayakan

Tambunan menjelaskan, selama asupan makanan cukup baik dan menjauhi pola hidup tak sehat, suplemen makanan seperti multivitamin sama sekali tidak dibutuhkan. Suplemen dibutuhkan hanya ketika seseorang menderita luka bakar serius, infeksi yang luas, aktivitas fisik berat, atau stres yang hebat.

Orang yang merokok atau, pekerjaannya harus diterpa polusi dan sinar matahari terus- menerus, seperti polisi lalu lintas, juga memerlukan suplemen tersebut. Asumsinya, asupan makanan yang bervitamin antioksidan tidak cukup dibandingkan terpaan radikal bebas. Dengan demikian, tubuh orang itu dalam kondisi stres oksidatif atau komposisi radikal bebasnya lebih banyak.

Menurut Tambunan, suplemen yang paling utama dibutuhkan orang-orang tersebut adalah vitamin C dengan dosis antara 100-500 miligram per hari. Soal dosis memang masih kontroversi. Sebab, jika vitamin C yang diasup ternyata berlebihan bagi tubuh, vitamin C tersebut justru menjadi vitamin C radikal yang sifatnya sama dengan radikal bebas. Glutation tidak lagi sempat menetralkannya karena jumlahnya yang berlebihan. Memang, sebagian yang berlebih itu dapat larut bersama urine, tetapi potensi radikal tetap ada.

Hal yang sama berlaku pada vitamin E, yang jika berlebihan dapat menjadi vitamin E radikal. Ada pula teori yang mengatakan, kelebihan vitamin E dapat mengganggu proses pembekuan darah jika terjadi luka. Selain itu, vitamin E akan terakumulasi di jaringan tubuh yang mengandung lemak seperti liver dan berpotensi meracuni liver.

Tambunan menuturkan, suatu penelitian antioksidan di Amerika Serikat dilakukan pada orang-orang yang merokok dan sekaligus menderita kanker paru. Sebagian dari mereka diberi suplemen betakaroten dosis tinggi, sebagian yang lain diberi plasebo (pil kosong). Dugaan awal, kelompok yang diberi betakaroten sel kankernya dapat terkendali. Yang terjadi cukup mengejutkan, kelompok yang diberi betakaroten justru menunjukkan perkembangan sel kanker. "Pemberian betakaroten itu lantas segera dihentikan," tutur Tambunan.

Selama ini di pasaran suplemen vitamin E dan C umumnya dijual dalam dosis relatif tinggi per tabletnya, bahkan beberapa merek vitamin C berdosis hingga 1.000 mg per tablet. Padahal, menurut Tambunan, kecukupan gizi vitamin C per hari hanya 60 mg. Untuk vitamin E, cukup 8-10 IU per hari. Tambunan menambahkan, kadar tersebut cukup terpenuhi dari bahan makanan sehari-hari. Vitamin C, misalnya, banyak terkandung dalam jambu klutuk, jeruk, atau kiwi. Vitamin E bisa diperoleh dari sayur-sayuran seperti kecambah, kedelai, atau kuning telur.

Dengan demikian, orang di luar kondisi yang berpotensi stres oksidatif praktis tidak dianjurkan mengonsumsi suplemen antioksidan. Sebaliknya, sangat dianjurkan berusaha mengonsumsi makanan cukup gizi, sebab asupan antioksidan dari makanan sangat kecil risiko berlebihan. Memang klasik, tetapi empat sehat lima sempurna memang jawabannya.

Tambunan menyarankan, konsumen harus pandai mengukur kondisi fisiknya sendiri. Suplemen baru dianjurkan ketika tubuh mendapat beban fisik yang cukup berat, atau terpaksa berada di kondisi yang sangat terpolusi. Artinya, mengonsumsi suplemen tidak dianjurkan setiap hari, melainkan tergantung pada kondisi yang dihadapi seseorang.

PENYANYI keroncong Waljinah pun rupanya cukup bijak dalam mengonsumsi suplemen vitamin. Ketika harus menembang hingga dini hari pada pagelaran wayang kulit, barulah dia meminum vitamin C setelah menyantap makan malamnya. "Kalau tiap hari, saya lebih memilih minum wedang jahe dan kencur saja sudah cukup. Namanya wanita Jawa, ya minum jamu," kata Waljinah.

Baik Tambunan maupun Sadikin mengingatkan, suplemen makanan seperti multivitamin dan mineral sama sekali bukan sumber energi seperti yang ditonjolkan oleh berbagai iklan. "Itu pembodohan massa. Sumber energi hanyalah karbohidrat, protein, dan lemak. Vitamin dan mineral hanya semacam oli pelincir pada mobil. Ia melancarkan proses pembentukan energi," papar Sadikin.

Oleh karena itu, Tambunan menegaskan, mengonsumsi multivitamin dan mineral dalam dosis tinggi tanpa makanan yang baik merupakan kemubaziran dan justru dapat membahayakan. Glutation, sebagai antioksidan endogen, eksistensinya di dalam tubuh sangat tergantung pada asupan zat-zat makanan, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak. Tanpa glutation, proses penyeimbangan radikal bebas di dalam tubuh bisa kacau-balau.

Selama ini suplemen antioksidan sering kali mengklaim bahwa antioksidan adalah senjata ampuh menghambat kerja radikal bebas yang menyebabkan penuaan sel, salah satunya sel kulit.

Padahal, menurut ahli kulit sekaligus Ketua Studi Dermatologi dan Kosmetika Indonesia dr Sjarif M Wasitaatmadja Sp KK, penuaan tidak hanya disebabkan oleh aktivitas radikal bebas. Faktor lain yang berpengaruh adalah faktor genetika, usia, dan gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok, minum alkohol, dan kurang istirahat.

Sjarif menjelaskan, berhubung dosis suplemen vitamin antioksidan secara oral masih kontroversi, pemberian vitamin antioksidan lebih aman secara topikal (pengolesan di kulit) yang berdosis cukup rendah. Terapi itu hanya dapat menghambat penuaan dini akibat radikal bebas yang dihasilkan dari polusi. Sementara faktor lain penyebab penuaan, seperti genetik dan usia, tidak dapat dicegah. Penuaan tetaplah takdir.

Sjarif menegaskan, mengatasi penuaan dini bukanlah dengan merekomendasikan suplemen antioksidan. Namun, menganjurkan supaya seseorang hidup sehat dan menjauhi stres. Sebab, stres itu sendiri memicu produksi hormon-hormon tertentu seperti adrenalin, yang jika berlebih dapat merugikan. Selain itu, kondisi stres juga akan memicu munculnya senyawa fitokin berlebihan yang dapat merusak sel.

"Jangan mencari pembenaran, oke kamu boleh ngerokok, nih saya beri antioksidan. Tapi, hey stoplah merokok, makan yang sehat kalau mau awet muda. Jangan stres, nikmatilah menjadi tua," ujar Sjarif.

Boleh jadi nasihat Waljinah memang tepat. Resep awet muda justru dimulai dari pikiran yang positif dan hati yang riang. Jadi, keriput? Siapa takut!(B14)

Search :






















KONSULTASI Dari Kongres Nefrologi (Ginjal) Sedunia

KONSULTASI Dari Kongres Nefrologi (Ginjal) Sedunia

KONSULTASIDari Kongres Nefrologi (Ginjal) Sedunia
Diasuh oleh: Tim Dokter RS MedirosKongres ke-3 Nefrologi yang diselenggarakan di Singapura mengambil tempat di Gedung Konvensi dan Ekshibisi yang sangat besar: Suntec Singapore. Peserta yang menghadiri Kongres tsb mencapai angka lebih dari 4.000, suatu jumlah yang besar sekali. Tidak mengherankan bila penyelenggaraan sesi ilmiah digelar secara paralel sampai dengan tujuh kelompok, misalnya pada tgl 27 Juni ada sesi: Pencegahan Penyakit Ginjal Diabetes, Hemodialisis, Transplantasi, Hipertensi, Gagal Ginjal Akut, Proses Inflamasi/peradangan, Obat baru Pengatur Fosfor .Beberapa informasi yang cukup menonjol dan menarik, kami sampaikan sebagai berikut :Hipertensi Hipertensi dapat terjadi pada pasien-pasien dengan gejala ”Sleep apnea”: yaitu pasien-pasien yang pada waktu tidur nafasnya berhenti pada saat saat tertentu. Selain itu dikemukakan dalam pengobatan Hipertensi, pasien memegang posisi sangat penting/kunci agar pengobatan berhasil. (Dr. J. Whitworth, Australia)Pada pasien yang Hipertensinya terkendali baik, terjadi penurunan fungsi ginjal yang alamiah, yaitu sebesar 1% per tahun. Sedangkan bila tidak terkendali, penurunan fungsi ginjal akan jauh lebih besar, tentunya juga tergantung pada faktor-faktor risiko lainnya. Bila sudah ada kebocoran protein di urin (proteinuria) maka kombinasi obat ACEI (Ace Inhibitor, seperti Captopril dsb) dan ARB (Angiotensin Receptor Blocker, seperti Valsartan dsb) akan memberi hasil yang lebih baik (Dr. Rodriguez-Iturbe, Venezuela)Pemberian obat anti kolesterol yaitu golongan Statin (misalnya Simvastatin, Atorvastatin dsb) akan mencegah kekakuan pembuluh darah yang sering timbul pada Hipertensi dan atau Dislipidemia (peninggian lemak darah, penurunan HDL kolesterol). Selain itu Statin jelas menurunkan gangguan jantung & pembuluh darah pada pasien-pasien Penyakit Ginjal Kronik (Chronic Kidney Disease) tingkat I s/d III (Prof. Wanner, Jerman)Asam urat ternyata dapat membuat gangguan pada pembuluh darah halus di ginjal dan akan menyebabkan timbulnya Hipertensi. Jadi asam urat tidak saja dapat mengganggu sendi, membentuk batu di ginjal, tetapi juga dapat menimbulkan Hipertensi. (Dr. Johnson, USA)Penyakit Glormerulonefritis Pada beberapa jenis penyakit saringan ginjal (Glomerulonefritis) memang dibutuhkan obat-obat Imunosupresif (mungkin lebih dikenal sebagai Obat Kanker) tetapi akan lebih baik bila dibantu oleh obat-obat Hipertensi seperti ACEI dan ARB, serta obat Statin. (Prof. Kincaid-Smith, Australia)Obat MMF (Cellcept) yang biasa dipakai pada pasien tranplantasi ginjal, sekarang juga dipakai pada penyakit Ginjal Lupus. Dipaparkan seorang pasien dengan Kreatinin tinggi dan kemudian menjalani Hemodialisis diberi pengobatan kombinasi steroid (Prednisone) dan MMF yang diberikan 1,5-2 g/hari dan kemudian dalam perjalanan diturunkan 1,5 g lalu 0,750 g/hari sampai dengan tahun ke 5. Hasilnya secara bertahap terjadi perbaikan fungsi ginjal dan akhirnya fungsi ginjalnya normal dengan Kreatinin 1,28 mg/dl. Selain itu hasil biopsi ginjal menunjukkan gambaran ginjal yang normal. Obat ini oleh peneliti lain juga dikatakan sebagai obat bermasa depan yang cerah bagi pasien Ginjal Lupus. (Prof. Lei-Shi Li, RRC)Penyakit Ginjal DiabetesPasien dengan Penyakit Ginjal Diabetes harus sedini mungkin memeriksakan diri agar pengobatan dapat (harus!!) dilakukan sedini mungkin, yaitu sebaiknya bila kebocoran albumin di urin masih normal. Bila kebocoran sudah diatas normal maka efek upaya proteksi akan berkurang. Selain obat anti Diabetes perlu diberikan kombinasi obat ACEI dan ARB serta obat Statin. Pada Ginjal Diabetes keadaan bisa terkendali stabil disebut sebagai remisi. Bila keadaan fungsi ginjal meningkat kembali disebut regressi. Pada penyakit Ginjal Diabetes bila tanpa pengobatan, penurunan fungsi ginjal akan sangat cepat yaitu penurunan dapat mencapai sebesar 20% per tahun, bayangkan dalam 4 tahun fungsi tinggal 20 %. Sedangkan dengan pengobatan yang baik, pada periode yang dinisekali, penurunan fungsi ginjal hampir seperti alamiah yaitu 2% per tahun. (Prof. Remuzzi, Italia)Transplantasi GinjalSuatu tindakan yang baru, sudah dimulai pada Pusat-pusat Transplantasi Ginjal yaitu mengambil ginjal dari Donor dengan Laparoskopi (Laparascopic Donor Nephrectomy = LDN). Di USA sudah 30% kegiatan transplantasi memakai cara ini, di negara-negara Skandinavia bahkan sudah 50% (Dr. P. Kuo, USA)Infeksi pada pasien transplantasi ginjal yang termasuk sukar diatasi adalah infeksi jamur. Pemakaian obat-obat yang sekarang mudah timbul resistensi. Obat baru adalah Caspofungin berupa injeksi dan kapsul, Micafungin, Voricomazole.Demikian beberapa informasi yang mudah-mudah cukup bermanfaat.Dr. Nico A. Lumenta, K.NefroKonsultan Ginjal-Hipertensi RS. Mediros



Copyright © Sinar Harapan 2003




Hati-hati Lahap Obat Pengurang Sakit

Hati-hati Lahap Obat Pengurang Sakit

Hati-hati Lahap Obat Pengurang Sakit

WASHINGTON - Mengonsumsi obat penghilang sakit sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Padahal di baliknya ada risiko yang membahayakan kesehatan. Apa itu?Obat penghilang rasa sakit kini banyak dijual bebas. Sedikit sakit kepala atau gigi,cukup ke warung atau apotik, dan kita dapat obat itu. Tanpa resep dokter. Padahal sejumlah obat diidentifikasi memiliki efek negatif. Ahli medis AS belum lama ini menemukan bahwa penggunaan dosis tinggi obat penghilang sakit sejenis ibuproven dan tylenol bisa meningkatkan tekanan darah. Uniknya, ini hanya dialami oleh kaum perempuan saja.Efek yang sama tidak ditemukan dalam aspirin. Namun efek itu baru muncul setelah tiga hingga empat tahun penggunaan obat secara rutin.Hasil riset yang dipublikasikan di jurnal Hypertenson ini menambah daftar panjang bahwa obat pemerang sakit punya efek negatif. Ini berlaku bagi obat yang dengan resep dokter maupun dijual bebas. Ini berarti, setiap orang harus menggunakan obat sejenis itu dengan hati-hati.SurveiYang disebut sebagai obat berisiko itu termasuk juga jenis asetaminofen atau parasetamol, produksi Johnson & Johnson Co yang bermerek dagang Tylenol. “Dalam studi kami, perempuan yang mengonsumsi 500 miligram (mg) atau lebih asetaminofen per hari, ditemukan dua kali berisiko kena tekanan darah tinggi disbanding yang tidak mengonsumsi asetaminofen.” Jelas Dr. John Phillip Forman dari Harvard Medical School and Brigham and Women’s Hospital di Boston seperti yang dilansir Reuters baru-baru ini.Secara detail, studi itu menyebut, perempuan usia 51-77 tahun yang menggunakan ibuprofen 400 mg perhari memiliki risiko 80 persen menderita hipertensi dibanding yang tidak mengonsumsi obat ini. Sedangkan perempuan dalam usia lebih muda, 34-53 tahun yang melahap ibuproven sebanyak 400 mg per hari, punya risiko 60 persen lebih tinggi mengidap hipertensi ketimbang yang tidak.Studi yang dilakukan Forman beserta timnya ini melibatkan 1.903 perempuan berusia antara 51-77 tahun. Kelompok usia lebih muda adalah perempuan usia 34-53 tahun. Semua perempuan itu tidak mengidap tekanan darah tinggi sama sekali ketika studi mulai dilakukan. Kemudian studi dilakukan dengan mengajukan pertanyaan rutin mengenai aspek kesehatan dan gaya hidup, termasuk obat jenis apa yang serng mereka pakai. Semua jawaban dari mereka diamati dengan seksama. Pengamatan ini juga difokuskan pada obat-obat dengan resep dokter yang tergolong sebagai inhibitor COX-2. Obat ini terbukti meningkatkan potensi naiknya tekanan darah, stroke dan serangan jantung. Pasien yang menggunakan obat ini juga berisiko kena pendarahan perut.Waspada“Saya tidak menyarankan agar obat-obatan ini dilarang beredar. Orang yang menderita penyakit kronis memang semestinya mendapat penanganan atas penyakitnya,” ungkap Forman. “Namun kemungkinan banyak orang yang terus saja memakai obat-obat ini hanya karena rasa sakit yang kurang berarti. Mereka juga cenderung tidak mengindahkan anjuran dokter.”Selama ini obat pengurang rasa sakit banyak digunakan oleh mereka yang menderita sakit kepala, nyeri tulang atau jenis rasa sakit lain. Temuan ini setidaknya membuat mereka yang berlangganan obat sejenis itu bisa sedikit waspada, lebih berhati-hati dan alangkah baiknya kalau mengurangi dosisnya.Tekanan darah yang meningkat berarti sama saja dengan peningkatan risiko terkena stroke, serangan jantung dan gagal jantung. Semuanya itu merupakan penyakit yang banyak diderita penduduk Paman Sam.Aspirin tergolong obat yang justru bisa mencegah penyakit jantung apabila dibanding pemerang rasa sakit lainnya. Ada juga obat lain yang cukup aman dikonsumsi, yakni jenis Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDS). Asetaminofen, walau berbahaya bagi tekanan dara, masih tergolong aman untuk jantung. Tapi Forman menyatakan obat-obat ini justru bisa berpengaruh pada fungsi endothelial, yakni kinerja saluran darah. NSAIDS, mempengaruhi komponen yang diproduksi dalam tubuh yang bernama prostaglandins.“Walaupun aspirin juga adalah sintesa inhibit prostaglandin, obat ini tidak terkait dengan disfungsi endothelial. Secara kontras, aspirin justru meningkatkanfungsi endothelial seperti yang pernah terjadi pada banyak kasus pasien ateroklerosis,” jelas Forman. (mer)



Copyright © Sinar Harapan 2003




Waspadai Bahan Kimia Pemicu Kanker Payudara

Waspadai Bahan Kimia Pemicu Kanker Payudara

Waspadai Bahan Kimia Pemicu Kanker Payudara

Jakarta - Penggunaan bahan kimia berlebihan terbukti mempertinggi risiko terkena kanker payudara. Tidak main-main, bahan kimia ini justru biasa kita jumpai pada kehidupan sehari-hari. Sebut saja bahan pembersih, tekstil dan plastik yang justru memicu pertumbuhan kanker payudara, demikian berdasarkan studi ilmuwan asal Texas dan California Selatan baru-baru ini.Kanker payudara yang menjadi momok mengerikan kaum Hawa sejauh ini dikenal sebagai salah satu penyakit yang bisa muncul karena ada hubungan keluarga. Tidak sepenuhnya benar ternyata. Serangkaian penelitian terkini menyebut faktor makanan dan lingkungan juga sangat berperan. Teori ini kian diperkuat lagi dengan temuan anyar ilmuwan bahwa ada sejumlah bahan kimia berbahaya di sekitar kita yang memicu tumbuhnya kanker payudara.Dalam edisi terbaru Journal of Applied Toxicology dilaporkan bahan kimia bernama 4-nonylphenol merupakan bahan berbahaya yang mampu memicu kanker payudara pada sejumlah tikus. Namun eksperimen laboratorium ini masih membutuhkan studi lanjut terhadap manusia. Sebab apa yang terjadi pada tikus belum tentu bisa terjadi pula pada manusia. Untuk itu masyarakat diharap tidak langsung panik.Dr William Baldwin beserta timnya dari University of Texas at El Paso dan Clemson University di Carolina Selatan menemukan bahwa 4-nonylphenol (4-NP) mempengaruhi kinerja hormon estrogen pada sejumlah tikus. Dengan diberi asupan 4-NP dalam berbagai dosis, maka tubuh tikus-tikus betina tersebut mengalami pertumbuhan kanker payudara. Mayoritas kanker payudara berkembang dalam tempo 32 minggu. Setelah dianalisis ternyata bahan kimia ini menstimulasi produksi hormon estriol pada lever.Produksi estriol yang meningkat membuat jaringan kanker tumbuh secara kompleks pada tikus betina. “Ekspos bahan kimia 4-NP dalam jangka waktu panjang dipastikan akan memicu kanker payudara,” jelas Dr.Baldwin seperti yang dikutip BBCNews Online baru-baru ini.Bahan kimia 4-NP yang diduga berbahaya ini terkandung dalam cat, pestisida dan produk pembersih yang cukup akrab dengan aktivitas manusia sehari-hari. Sejauh ini pihak Department for Environment, Food and Rural Affairs Inggris telah menetapkan bahan kimia seperti nonylphenol dan bisphenol sebagai bahan kimia beracun yang mampu mempengaruhi kinerja hormon.Sedangkan hormon estrogen dan estriol memang sudah sejak lama diketahui terkait erat dengan kanker payudara. Estrogen selama ini dikenal sebagai hormon penerima atau reseptor pada payudara yang dengan mudah ditumbuhi kanker. Makin tinggi kinerja hormon ini, makin cepat pula perkembangan kanker.Nonylphenol merupakan komponen organik yang merupakan produk sintetis atau buatan. Bahan kimia ini dihasilkan dari proses alkasi. Bahan yang sudah lama dikategorikan sebagai racun ini masih tetap dibutuhkan dalam pelbagai produk pembersih seperti detergen rumah tangga. Penggunaannya memang dibatasi dalam standar tertentu yang menjaga kesehatan manusia. Namun studi terbaru ini membuktikan bahwa kita perlu tetap waspada terhadap penggunaan bahan kimia berlebihan. (mer)



Copyright © Sinar Harapan 2003




Bahan Tambahan Makanan (BTM) Antara Kepuasan dan Kesehatan

Bahan Tambahan Makanan (BTM)
Antara Kepuasan dan Kesehatan


Tahu kah anda!
Salah satu pemicu penyebab Kanker,
Jantung, Strok dan penyakit abad modern ini, adalah BTM

Tahu kah anda!
Hampir Semua Makanan/Minuman
Hasil Olahan Pabrik Mengandung BTM.

Diperkirakan organ pencernaan manusia semasa hidupnya mengolah makanan sebanyak 100 ton (100.000kg). Jumlah tersebut tidak semuanya merupakan zat-zat yang bermanfaat bagi tubuh akan tetapi juga ikut serta zat-zat berbahaya terutama Food Additive atau Bahan Tambahan Makanan (BTM).
BTM adalah semua yang bukan bagian dari bahan makanan yang diolah seperti pemanis, penyedap rasa dan aroma, penguat rasa, pewarna, pengawet, pengental/pengemulsi, anti bakteri, pemutih, pengeras, pengatur keasaman dan lainnya. Saat ini hampir semua jenis makanan dan minuman yang diproses dari pabrik dan juga yang tersedia di restoran-restoran menggunakan BTM untuk meningkatkan kepuasan konsumen.

Beberapa contoh BTM yang oleh riset dinyatakan berpeluang menyebabkan kanker, tumor atau penyakit lainnya:

NO Bahan Tambahan
Makanan
Pemakaiaan
(Contoh)
Dampak
(Jika Berlebihan/Pemakaian Jangka Panjang)
1 Sakarin Soft Drink, Permen, makan ringan lainnya Tumor kantong Kemih, beracun bagi janin, kanker
2 Siklamat Minuman beralkohol Tumor
3 Nitrit/Nitrat Makanan kalengan Kanker
4 Sulfit Jus Buah, sosis, acar Sesak nafas, Sesak dada, gatal-gatal dan bengkak
5 BHA/BHT Makanan Awetan Kelainan Kromosom Sel, menurunkan antioksidan alami tubuh.
6 Benzoat Minuman, Makanan Pembesaran ginjal dan hati, menurunkan berat badan
7 Sulfit Makanan Kalengan Menurunkan daya guna protein dan Lemak
8 Pewarna Merah/Amaranth Makanan, Minuman kanker

Meskipun dosis penggunaan setiap BTM ditetapkan pada kadar aman bagi manusia, namun kelebihan dosis dapat terjadi karena konsumsi makanan hasil olahan pabrik setiap harinya sangat beragam. Kelebihan dosis dan perbedaan daya tahan tubuh menentukan tingkat dampak negatif BTM bagi kesehatan. Meninggalkan makanan/minuman hasil olahan pabrik atau sajian restoran tentu tidak mungkin dilakukan, oleh karena itu mengurangi frekuensi mengkonsumsi makanan yang mengandung BTM, menjaga kesehatan organ pencernaan dengan mengkonsumsi serat yang cukup serta makanan bersifat prebiotik dapat mengurangi tertinggalnya zat-zat berbahaya dari makanan dalam tubuh.
Selain upaya tersebut, perlu mengimbangi zat-zat berbahaya tersebut dengan perlindungan alami seperti bahan-bahan antioksidan. Bahan-bahan antioksidan tersedia banyak pada sayur-sayuran, buah dan biji-bijian. Contoh antioksidan pada bahan makanan adalah vitamin E, Tokoferol, Asam Ascorbat, Flavonoid dan lain-lain. Namun Antioksidan dalam bahan alami terikat sangat kuat dengan senyawa lain yang sangat sulit dipisahkan oleh proses pencernaan sehingga efisiensinya kurang dalam tubuh.
Saat ini senyawa-senyawa antioksidan sudah dibuat dalam bentuk produk suplemen. Berdasarkan riset direkomendasikan kriteria dalam memilih produk antioksidan tersebut yaitu:

  • Pastikan bahwa antioksidan yang dipilih bukan dari bahan sintesis tetapi 100% alami yang mengandung multiantioksidan.
  • Mengandung banyak jenis Antioksidan (multi AO)
  • Merupakan antioksidan analog (AOA) dengan berat molekul rendah yang bekerja seaktif antioksidan (AO) molekul tinggi (AO enzimatik alami dalam tubuh)
  • Dalam bentuk terlipolisasi/emulsifikasi dengan lemak tak jenuh, yang mudah diserap pada tingkat sel.
  • Mampu memperbaiki induksi SOD alami tubuh.

Kriteria antioksidan tersebut dapat ditemukan pada Niwana SOD . Produk antioksidan yang merupakan hasil riset bertahun-tahun oleh Prof. Yuki Niwa (seorang pakar antioksidan terkenal).





SERAT yang SALAH KAPRAH

SERAT yang SALAH KAPRAH

Mungkin hampir 100% orang tahu bahwa makanan berserat itu sangat baik dan dianjurkan, sebagai dampak positif gembar gembor iklan minuman/makanan berserat. Tapi iseng coba tanyakan kepada beberapa orang, apakah daging ayam atau daging sapi mengandung serat? Dari 10 orang yang anda tanya sangat mungkin 6-8 orang akan meng-IYA-kan. Padahal serat yang dimaksud bukan seperti yang kasat mata terlihat. Ingat, serat hanya ada dalam pangan nabati, tidak satupun pangan hewani yang mengandung serat.

Jangan sekedar tahu bahwa serat itu baik, tetapi selami juga manfaatnya

Makanan berserat dapat menyerap air yang memperbesar volume makanan sehingga cepat menimbulkan rasa kenyang. Serat juga memperlambat pencernaan sehingga membuat rasa kenyang bertahan lebih lama. Dengan mekanisme ini serat membantu menurunkan berat badan dan kadar gula darah. Daya serap air dari serat menjadikan kotoran lebih lunak dengan volume lebih besar sehingga merangsang peristaltic/gerak usus besar sehingga kotoran tidak terlalu lama di usus dan kotoran dikeluarkan dengan nyaman dan lancar. Mekanisme kerja serat ini sangat membantu meringankan maupun mencegah ambeien dan racun dari sisa pencernaan tidak cukup waktu untuk merangsang pembentukan sel kanker. Makanan berserat juga akan menyerap cairan empedu dan kolesterol sehingga membantu menurunkan kadar kolesterol darah yang akhirnya memperkecil resiko penyakit jantung koroner.

Beberapa Riset Tentang Serat

  1. Prof dr. Joseph M Keenan (Minnesota University, USA) : serat dari serealia lebih terkait dengan penurunan resiko infark jantung, serat dari buah terkait dengan penurunan tekanan darah, serat larut terbukti efektif menurunkan kolesterol.
  2. Dr. Maria Soller dalam International Journal of Cancer : serat larut maupun tak larut memiliki dampak protektif terhadap kanker mulut, kerongkongan dan esophagus.
  3. Serat mengurangi resiko kanker usus besar dan rectum/anus (Prof. Sheila Bingham ( Cambrige University ) dalam European Conference on Nutrition & Care di Paris)
  4. Makanan berserat mampu memperlambat pencernaan sehingga menimbulkan rasa kenyang dalam waktu yang lebih lama (Journal of The American Medical Association).

The National Cancer Society Dietary Guidelines for America menganjurkan konsumsi serat harian sebesar 20-35 gram. Untuk orang Indonesia cukup 20-25 gr saja. Realitanya konsumsi serat penduduk Indonesia 10-15 gr/hari (Puslitbang Gizi Bogor), jauh dari yang dianjurkan. Bila anda penggemar serealia, biji-bijian, kacang-kacangan / polong-polongan dan sayur atau vegetarian dengan keanekaragaman yang tinggi tentu tidak akan sulit memenuhi kebutuhan serat ini. Bila tidak, disinilah peranan suplemen makanan berserat sangat membantu

Tahukah anda dengan minum OGF plus perbanyak sedikit konsumsi sayur/buah anda

maka kebutuhan serat anda sudah terpenuhi. Mengapa ???

Karena … OGF mengandung 7 gr serat per sajian



===================================================================

Ingin LANGSING sekaligus DETOKS ? Kenapa Tidak?

=============================================================

Tips Kesehatan

Ingin LANGSING sekaligus DETOKS ? Kenapa Tidak?

Kelebihan berat badan/kegemukan menjadi momok bagi semua orang, apalagi dengan semakin banyaknya riset medis yang menyatakan gemuk pemicu berbagai penyakit degeneratif mematikan. Tak heran bila banyak yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan ataupun mempertahankan bobot tubuh yang ideal, sekalipun dengan cara yang amat tidak nyaman. Kalaupun ada yang berhasil umumnya hanya bersifat sementara, setelah putus dengan program atau obat yang digunakan berat badan melambung kembali bahkan melebihi berat badan awal sebelum menjalani program atau yang lebih dikenal dengan syndrome YoYo.

IDEALKAH BERAT BADAN ANDA?

Acuan kategori berat badan yang paling mudah dan representatif digunakan adalah metode Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT) . IMT didapatkan dengan cara membagi Berat Badan (dalam kg) dengan Tinggi Badan (dalam meter) yang dikuadratkan.

IMT = BB (kg)

TB2 (m)
  • Sangat Kurus : <>
  • Kurus (underweight) : 15.1 - 18,5
  • Normal : 18.6 - 25
  • Ideal Wanita : 19 - 21
  • Ideal Pria : 21 - 23
  • Kelebihan BB (overweight) : 25.1 - 30
  • Obesitas : 30.1 - 40
  • Sangat Obes : > 40

Contoh : BB real = 75g

  • TB = 160cm = 1,60m
  • IMT = 75 : 1,60 = 29,3
  • Kategori = Obesitas
  • BB ideal :
  • = (20 x 1,62) s/d (23x1,62)
  • = ± 55 kg
  • Jadi Kelebihan BB = ± 20 kg

APAKAH ANDA MENGALAMI SALAH SATU PERMASALAHAN DI ATAS?

Jangan kuatir, karena OGF memberikan solusi bagi anda yang ingin mendapatkan berat badan ideal, tanpa harus menyiksa diri dengan berbagai aturan makan. Plus pada saat yang sama sekaligus anda menjalani program detoksifikasi (pembuangan racun) dari dalam tubuh.

MEKANISME OGF MENURUNKAN BB

  1. Menghambat penyerapan lemak dan kolesterol di usus
  2. Memberi rasa kenyang dalam waktu yang lebih lama karena tinggi akan serat
  3. OGF juga menyumbang seluruh vitamin dan mineral esensial yang dibutuhkan tubuh sehingga proses pembakaran simpanan lemak tubuh sebagai pengganti kekurangan energi berjalan efektif, akibatnya kebutuhan energi tubuh tetap terpenuhi sehingga badan tidak terasa lemas. Sedang proses metabolisme tubuh yang lain tetap berjalan normal karena dengan OGF tubuh tidak kekurangan protein, vitamin dan mineral.
  4. Kandungan Fitokimia yang berasal dari berbagai herbal, sayur dan buah yang terdapat dalam OGF berfungsi untuk mencegah kerusakan sel akibat toksin dan radikal bebas yang terbentuk karena proses oksidasi dan metabolisme yang berlebihan selama program penurunan berat badan.

Cara Konsumsi :

Campurkan 1 sendok takar OGF dalam 250-300 ml air putih biasa (suhu ruang). Kocok menggunakan shaker (gelas pengaduk) dan minum segera. Jadikan OGF ini sebagai pengganti makan malam anda. Akhiri dengan 1-1½ gelas air putih biasa. Bila anda tidak bisa menghentikan makan malam, kurangi makan malam anda ½ porsinya dan OGF di minum 2 jam setelah makan malam.

OGF DAN DETOKS

OGF sesungguhnya diformulasi untuk membersihkan toksin dari dalam tubuh (proses detoksifikasi atau detoks). OGF memberikan manfaat detoks yang optimal dan detoks sesungguhnya karena OGF memenuhi syarat-syarat program/produk detoks yang baik yaitu :

  1. Terbuat dari bahan-bahan organik (tidak mengandung pestisida, herbisida, insektisida, rekayasa genetik, residu kimia industri,dll)
  2. Mengandung protein dan semua vitamin dan mineral esensial untuk meremajakan sel-sel sehingga proses detoks dapat berlangsung diseluruh sel tubuh. Produk yang hanya berfungsi untuk pencucian usus atau colon cleansing saja tidak akan optimal. Hasilnya hanya sementara bahkan cenderung merusak sistem pencernaan. Perlu diingat Colon Cleansing / Cuci Usus hanya sebahagian kecil dari proses Detox, karena detox melibatkan seluruh sel tubuh. (colon cleansing tidak sama dengan detox)
  3. Aman bagi saluran pencernaan dan tidak mengikis selaput lendir (mukosa) saluran cerna
  4. Tidak menguras nutrisi sehingga tidak membuat lemas, bahkan menyumbang protein, vitamin dan mineral esensial yang lengkap
  5. Tidak mengganggu keseimbangan flora/bakteri normal dalam usus, bahkan menyeimbangkan biota normal usus
  6. Mengandung herbal untuk memperkuat dan melindungi hati dan ginjal karena selama proses detoks hati dan ginjal adalah organ yang paling berat kerjanya.

Bila BB anda tergolong Obesitas atau sangat obes (IMT • 28) maka dianjurkan minum ½-1 sendok takar 2-3 jam setelah makan siang dan 1-1½ sendok takar pengganti makan malam.

Bila buang air besar anda lebih dari 2x perhari setelah minum OGF berarti dosisnya kelebihan. Kurangi sedikit dosisnya.








POLLING



Topik yang menarik menurut Anda
Kroton
Sansivieria
Walet
Aquarama
Echinacea
Arwana

Hasil Polling
Polling Lain

Suara: 1266

Iklan Baris

Iklan Terbaru

. RajaAlga Penyembuh Diabetes
. Cryptomonadales si RajaAlga
. Reza Herbal- PUSAT KELADI TIKU...
. PUSAT BIJI ZODIA,BIJI EUPHORBI...
. EUPHORBIA PUTIH,MERAH,KUNING
. TERLARIS ANTHURIUM
. * Minahong dan Sirih HerbaL *
. * Minahong, Daun Cincauan and ...
. HP BUTUT ANDA BISA BERNIAI 8,...
. ADA INGIN JADI ADMIN HYIP?




.
. Bibit Rambutan Ratujaya s...
. Informasi Usaha Budidaya ...
. INFORMASI BUDIDAYA BELUT
. Jeruk Bali
Respon Terbaru
. Re: INFORMASI BUDIDAYABEL...
. Re: Jeruk Bali
. Re: Lobster Air Tawar
. Re: INFORMASI BUDIDAYABEL...
. Re: Lobster Air Tawar

Info Singkat / Newsletter


Info Singkat



AGROTOUR


Agrotour



PELATIHAN


Pelatihan Trubus



Info Iklan


Info Iklan



TRUBUS NEW SITE


Info Kit Trubus
Lelang Online
Iklan Baris


Statistik




Tracked by Histats.com