Friday, August 10, 2007
Thursday, August 9, 2007
MENGAPA PERLU DETOKS? Dikutip dari tulisan Ibu Andang Gunawan, ADN, ND (Majalah NIRMALA Mei
Posted on 2:45 AM in artikel kesehatan, Ibu Andang Gunawan, Majalah NIRMALA, mengapa perlu detoks ?, OGF, trubus by Ana Widiastuti
MENGAPA PERLU DETOKS?
Dikutip dari tulisan Ibu Andang Gunawan, ADN, ND (Majalah NIRMALA Mei
2004)
Anda punya masalah sembelit, demam, flu, kelebihan berat badan, selulit,
kadar kolesterol darah berlebihan, lesu kronis, penyakit/gangguan kulit,
sindrom pramenstruasi, kehilangan gairah seks, penuaan dini, tumor,
penyakit-penyakit degeneratif (hipertensi, stroke, penyakit jantung
koroner, diabetes, kadar usam urat berlebihan, dll.), serta
penyakit-penyakit infeksi yang tak kunjung sembuh? Tahukah Anda bahwa
akar dari masalah-masalah tersebut adalah karena adanya timbunan ampas
tubuh Anda?
TOKSIN bukan hanya ampas dari makanan yang kita makan dan
makanan-makanan yang tidak tercerna, tetapi juga bisa berasal dari zat
makanan aditif, udara tercemar, bahan kimia seperti pestisida, logam
berat dalam air minum, residu obat-obatan farmasi, dll. Bahkan pikiran
dan emosi negatif juga merupakan racun bagi sel-sel tubuh kita. Semua
ampas atau zat yang tidak diperlukan tubuh akan diperlakukan sebagai
racun (toksin) atau penyakit.
Ampas atau toksin juga diproduksi secara alamiah oleh tubuh kita
sendiri. Ini merupakan proses metabolisme sehingga tidak dapat kita
hindari. Setiap hari di dalam tubuh terjadi pembelahan sel-sel baru.
Sementara itu sel-sel yang sudah tua akan menjadi aus, mati, dan menjadi
ampas.
Dalam kondisi normal, ampas akan dikeluarkan secara teratur setiap hari
melalui sistem pembuangan tubuh. Buang air besar setiap hari bukan
jaminan bahwa proses pembuangan kita normal. Jika salah satu atau
beberapa masalah tersebut merupakan keluhan Anda, berarti pengeluaran
ampas dari tubuh Anda belum optimal! Penyakit terjadi apabila proses
pembuangan tidak optimal dan toksin mulai merusak jaringan organ-organ
vital.
Dalam sejumlah hasil penelitian disebutkan kondisi racun berlebihan
(toxicity) erat hubungannya dengan penuaan dini, menyebabkan terjadinya
penyakit-penyakit degeneratif (liver, jantung, diabetes, kanker, dll.),
dan menurunkan sistem kekebalan tubuh. Karena itu, racun harus
dikeluarkan dari dalam tubuh. Caranya, dengan detoksifikasi (detoks).
Apa itu detoks?
Detoksifikasi (detoks) adalah proses pengeluaran racun atau zat-zat yang
bersifat racun dari dalam tubuh. Puasa merupakan salah satu metode
efektif detoksifikasi. Pembersihan dan detoks meningkatkan proses
alamiah pengeluaran toksin dari dalam tubuh kita. Organ vital yang
menjadi target dalam program pembersihan racun yang efektif adalah susu
besar (pengeluaran) dan liver (detoksifikasi).
Hampir semua penyakit degeneratif dapat dihubungkan dengan kondisi
keracunan dalam saluran usus (intestinal toxemia). Mengapa? Karena
setiap jaringan dalam tubuh mendapatkan makanan dari darah, dan darah
mendapatkannya dari usus. Setiap zat yang masuk ke dalam tubuh kita akan
terserap ke dalam darah melalui dinding-dinding usus. Artinya, toksin
yang berada usus juga akan ikut beredar bersama aliran darah sampai ke
sel-sel di seluruh penjuru tubuh kita. Toksin-toksin inilah yang
menyumbangkan terjadinya berbagai kondisi penyakit kronis, akut, dan
degeneratif. Begitu juga menurunnya tingkat energi dan penuaan dini.
Mengapa perlu detoks?
Salah satu penyebab terbesar terjadinya tokxemia pada usus adalah
kebiasaan mengkonsumsi makanan yang dimasak secara berlebihan atau
diproses, yaitu makanan-makanan yang tidak memiliki enzim lagi. Juga
kebiasaan lebih banyak makan makanan pembentuk asam, yaitu protein
(hewani), pati, lemak. Terlalu banyak menyantap makanan sumber protein
(hewani), pati, dan lemak mengakibatkan tubuh mengalami asidosis, yakni
kondisi keasaman darah dan jaringan tubuh berlebihan.
Asidosis dapat menimbulkan peradangan pada berbagai jaringan dalam
tubuh, menyebabkan butir-butir darah melekat satu sama lain, atau
terbentuknya jejaring serabut-serabut halus (fibrin) dalam darah.
Jejaring serabut-serabut ini yang memberi kesan seolah-olah darah
menjadi pekat. Serabut-serabut ini mengakibatkan peredaran sel-sel darah
terganggu, sehingga pasokan zat makan dan oksigen ke sel-sel jaringan
tubuh lainnya terhambat.
Tubuh kita dikaruniai enzim-enzim yang diperlukan oleh berbagai fungsi
metabolisme dalam tubuh dalam jumlah terbatas, termasuk proses
pencernaan. Tubuh tidak akan menggunakan enzim-enzim ini apabila makanan
yang kita makan masih memiliki enzim. Terus-menerus menggunakan enzim
tubuh akan menghabiskan energi dan menyebabkan peradangan pada pankreas.
Pankreas adalah organ vital yang memproduksi enzim-enzim pencernaan pada
usus kecil. Gangguan pada pankreas menyebabkan pencernaan tidak lancar
dan tubuh semakin banyak memproduksi ampas.
Usus besar tidak memiliki kemampuan untuk mencerna makanan. Tubuh akan
memadatkan makanan yang tidak tercerna ke sepanjang dinding usus halus.
Secara alami proses ini akan mengundang pengeluaran lendir dari sistem
kekebalan tubuh yang ada pada dinding-dinding usus. Kondisi ini akan
mengakibatkan sembelit (sulit buang air besar) dan penyumbatan pada
saluran usus besar. Setelah beberapa waktu, kotoran ini akan membusuk
dan menghasilkan gas beracun. Gas lebih mudah terserap melalui pori-pori
halus pada dinding usus, mengalir dalam darah dan masuk ke sel-sel tubuh
dan sewaktu-waktu siap menimbulkan penyakit.
Pembersihan besar-besaran alias detoksifikasi yang dilakukan secara
berkala, perlu bagi tubuh kita. Selain untuk mengurangi ampas-ampas
beracun dari dalam tubuh, tidak ada organisme pembawa penyakit atau
virus yang tahan dalam tubuh yang bersih. Terapi detoks paling tuadan
sudah ratusan tahun dilakukan oleh manusia adalah puasa. Dengan pola
makan yang lebih sederhana dan alami saja, manusia dahulu sudah mengerti
bahwa sekali waktu tubuh perlu detoks. Detoks seharusnya menjadi lebih
penting bagi manusia modern dengan pola makan yang cenderung menimbulkan
ampas lebih banyak dan penyumbatan-penyumbatan pada sistem tubuh.
Toksin mengakibatkan proses penuaan dan kerusakan lebih cepat pada
seluruh sel tubuh. Waktu tidak ada hubungannya dengan penuaan. Penuaan
atau proses degenerasi semata-mata adalah karena toksin dan dehidrasi
yang kita tabung selama bertahun-tahun.
Manfaat detoks bagi tubuh dan kesehatan:
* Meremajakan sel-sel sehingga kulit pun menjadi bersih, sehat,
kencang, dan lembut.
* Menurunkan kelebihan berat badan.
* Meningkatkan energi.
* Peningkatan indera penciuman, perasa, dan pendengaran.
* Pengeruta tumor (jika ada).
* Peradangan pada kelenjar getah bening hilang.
* Melancarkan peredaran darah dan getah bening.
* Memperbaiki daya ingat.
* Menghilangkan gejala-gejala penyakit seperti alergi, sakit
kepala, kembung, dsb.
* Memperbaiki kadar gula darah dan tekanan darah.
* Memperbaiki fungsi liver dan ginjal.
* Meningkatkan daya tahan tubuh.
Bagaimana melakukan detoks?
Ada beberapa metode detoks yang sering dilakukan saat ini.
Mulai dari yang alami seperti puasa hingga yang menggunakan suplemen
herba atau obat-obatan tertentu. Program detoks yang baik harus dapat:
* menormalkan pH (kadar keasaman) pencernaan
* meringan beban fungsi enzim di pankreas
* melancarkan kerja empedu dan mencairkan cairan empedu
* mengurangi lemak dan penyumbatan pada liver
* membangun flora usus
* melancarkan pembuangan lendir dan ampas dari dinding usus agar
penyerapan zat makanan menjadi lebih baik
* membuang kotoran yang menyumbat saluran usus (catatan:
penyumbatan pada usus dapat mengakibatkan kanker usus)
* merangsang peristaltik usus agar pembuangan lebih lancar
* membersihkan darah
* membersihkan saluran kencing dan memperbaiki keseimbangan
cairan tubuh
* melancarkan peredaran getah bening
* membuka pori-pri kulit
* mengeluarkan lendir dari paru-paru serta melancarkan pernapasan
Biasanya perlu waktu 6 – 12 bulan untuk mencapai semua itu, dan juga
sangat bergantung pada kondisi keracunan dan kedisiplinan setiap
individu.
Metode detoks yang paling mudah dan aman adalah juice
fasting, yaitu puasa menghindari makanan padat dan pembentuk asam, dan
hanya mengkonsumsi jus buah segar sepanjang hari dalam porsi tertentu.
Puasa ini aman bagi semua orang. Mereka yang menderita kanker stadium
lanjut, diabetes, atau gagal ginjal harus di bawah pengawasan ahli.
Istirahat dan relaksasi sangat penting dalam program detoks.
Jika masih sibuk dengan pekerjaan dan aktivitas lainnya, sebaiknya tidak
melakukan detoks. Laju metabolisme tubuh selama detoks akan menurun,
begitu pula suhu tubuh, tekanan darah, nadi, dan saluran pernapasan. Ini
merupakan proses alamiah karena tubuh akan melakukan penghematan energi
dan sebagian besar energi akan lebih dikonsentrasikan untuk proses
pembuangan racun.
Proses keluarnya racun juga menimbulkan reaksi tidak nyaman
pada tubuh, yang secara medis dikenal sebagai gejala kemunduran
(withdrawal symptoms). Beberapa gejala mirip dengan gejala sakit atau
sakaw pada pemakai narkoba yang sedang menjalani program pembersihan.
Sebaliknya, dalam paham pengobatan alami, gejala ini disebut krisis
penyembuhan (healing crisis). Gejala ini biasanya muncul pada hari ke-3
sejak dimulainya program detoks. Gejala yang terasa biasanya hanya
muncul satu hari saja. Kecuali gejala seperti flu (pengeluaran lendir
melalui saluran pernapasan) biasanya berlangsung lebih lama.
Beberapa hari setelah itu kita mulai merasa tidak kelaparan
lagi, walaupun adakalanya muncul gangguan seperti memikirkan
makanan-makanan tertentu padahal perut sedang tidak lapar.
Krisis penyembuhan
* Gejala demam atau flu
* Diare atau sebaliknya, malah mengalami sembelit (sulit buang
air besar). Jika terjadi sembelit, bisa dibantu dengan enema atau
kolonhidroterapi/”cuci usus”.
* Nyeri otot atau sendi
* Sakit kepala atau migrain (umumnya pada perokok dan peminum
alkohol)
* Mual-mual atau kembung
* Lesu
* Banyak mengeluarkan riak atau lendir
* Gatal-gatal atau berjerawat (jika sebelumnya mempunyai masalah
dengan kulit
* Napas bau dan muncul lapisan tebal pada permukaan lidah (dapat
dikerok dan dibersihkan dengan sendok atau alat khusus pengerok lidah)
* Mudah merasa kedinginan (karena suhu tubuh menurun)
* Gangguan emosional (uring-uringan atau emosional)
Mekanisme detoks
Ada 2 mekanisme yang digunakan liver untuk mengeluarkan
racun. Bagian pertama pada detoks, disebut fase 1, adalah mengubah
toksin menjadi entuk yang larut lemak. Secara alamiah lemak akan segera
mengikat toksin yang masuk ke dalam tubuh. Karena itu, toksin harus
dilepaskan dulu dari jaringan lemak.
Bagian kedua, disebut fase 2, mengubah toksin menjadi bentuk
yang larut air agar toksin dapat dikeluarkan melalui saluran usus dan
urine. Dengan mekanisme ini, tidak akan ada racun yang tersangkut atau
tertinggal pada jaringan, termasuk jaringan otak dan saraf pusat. Toksin
akan keluar perlahan melalui aliran darah. Pada saat inilah biasanya
gejala-gejala yang terasa seperti penyakit, yakni gejala krisis
penyembuhan (healing crises) itu muncul.
Pada setiap fase yang harus dilalui, pelaksanaan detoks ini
sebaiknya dibantu dengan makanan dan herba tertentu untuk menguatkan
sel-sel organ vital dan kelenjar yang berperan pada proses detoks. ***
PRAKTEK DETOKS YANG EFEKTIF
Dikutip dari tulisan Ibu Andang Gunawan, AD, ND, dalam Majalah NIRMALA
JUNI 2004 halaman 60-64.
Program detoks tak bisa dilakukan sembarangan. Di antara sekian jenis
program detoks, detoks dengan jus buah (fruit juice fasting) adalah yang
paling aman dan nyaman. Namun sebelum melakukannya, pahami dulu
aturannya. Apa yang harus dilakukan menjelang detoks? Berapa lama waktu
optimum menjalankan detoks? Reaksi apa yang mungkin timbul selama
detoks?
USUS BESAR yang tidak sehat dan tidak lancar adalah sumber datangnya
berbagai penyakit. Sebagai saluran pembuangan yang menjadi tempat
bertumpuknya ampas-ampas, usus besar adalah organ pertama yang harus
dibersihkan, sebelum tubuh melakukan proses detoks yang akan dilakukan
oleh hati/liver.
Usus besar memang tempat lewatnya ampas dan kotoran, sehingga memang
tidak dapat dikatakan sebagai tempat yang bersih. Yang dimaksudkan harus
bersih dalam hal ini adalah lancar. Aliran dalam saluran pembuangan
harus lancar agar tidak terjadi penyumbatan, yang di kemudian hari dapat
menyebabkan kondisi keracunan dari dalam tubuh (otointoksikasi) dan
gangguan metabolisme.
PUASA: DETOKS YANG EFEKTIF
Ada banyak cara detoks. Sarapan buah di pagi hari, seperti metode Food
Combining, saja sudah dapat menimbulkan efek detoks. Tetapi di antara
semua alternatif detoks yang ada, puasa merupakan metode yang paling tua
dalam sejarah, paling aman, dan paling efektif.
Metode yang paling direkomendasikan para ahli kesehatan alami maupun
klinik-klinik puasa di negara-negara Barat adalah puasa hanya minum air
suling (disebut water fasting) atau puasa hanya dengan minum jus buah
atau jus sayuran saja (juice fasting).
Juice fasting dengan buah-buahan adalah pilihan detoks yang paling aman
dan nyaman. Kandungan gizi yang berlimpah dalam buah segar, termasuk
enzim-enzim dan energinya, dapat menurunkan intensitas pembersihan pada
tingkat yang lebih nyaman.
Puasa dengan hanya minum air prosesnya lebih intensif karena akan
membakar lebih banyak kalori. Bagi pemula, water fasting hanya boleh
dilakukan di klinik khusus yang mempraktekkan terapi puasa dan di bawah
pengawasan spesialis detoks.
PRINSIP-PRINSIP DETOKS
* Tinggalkan alat penimbang berat badan
Detoks bukan program penurunan berat badan. Penurunan berat badan
hanyalah efek sampingan detoks. Fokus detoks adalah kesehatan Anda.
Artinya, metabolisme harus baik atau lancar. Detoks memperbaiki
metabolisme tubuh. Jika tubuh sehat tidak akan ada kelebihan berat
badan. Ingat, kelebihan berat badan bukan semata-mata karena lemak,
tetapi toksin! Berhasil tidaknya detoks mudah terlihat dari penampilan
dan tekstur kulit yang menjadi tampak muda dan segar, juga ukuran
lingkar tubuh yang mengecil tanpa kesan kurus kering.
* Tinggalkan hitungan kalori
Program detoks ini tidak perlu membuang Anda pusing dengan urusan
hitunga-hitungan kalori, karena Anda hanya akan mengkonsumsi jus buah.
Buah adalah makanan rendah kalori tetapi kaya energi. Dalam ilmu
kesehatan modern, kalori juga dipahami sebagai energi. Tetapi dari paham
kesehatan alami, energi adalah tenaga atau power atau aura yang terdapat
pada makanan. Seperti aura pada manusia, aura pada tumbuh-tumbuhan juga
dapat dilihat dari kamera khusus. Sebaliknya, kalori lebih tepat
didefinisikan sebagai panas atau energi yang dibutuhkan untuk
pembakaran. Buah disebut makanan rendah kalori karena hampir tidak
memerlukan energi tubuh untuk pembakarannya, sehingga tubuh bisa lebih
banyak menghemat energi. Energi ini yang sebenarnya berperan dalam
proses penyembuhan dan peremajaan pada sel-sel tubuh.
PERSIAPAN SEBELUM DETOKS
* Selama proses detoks berlangsung, sebagian besar energi akan
difokuskan tubuh ke proses pembuangan. Karena itu, tidak ada gunanya
melakukan detoks jika masih disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang
menyita tenaga dan pikiran. Melakukan detoks dalam kondisi demikian
tidak akan membuat tubuh jadi sehat, tetapi justru sebaliknya. Cari
waktu yang baik untuk menjalankan detoks.
* Waktu menjalani detoks adalah 7-40 hari berturut-turut,
bergantung pada kondisi setiap orang. Bagi yang tidak biasa berpuasa,
sebaiknya latihan dulu melakukan detoks beberapa kali selama 3 hari
berturut-turut. Harap diingat bahwa detoks 3 hari itu hanya latihan.
Karena proses pengeluaran toksin sendiri baru mulai pada hari ke-3. Dan
bagi yang berminat menjalankan detoks lebih dari 7 hari sebaiknya
melakukan konsultasi kesehatan lebih dulu dengan dokter atau ahli gizi
yang menguasai terapi detoks.
* Agar tubuh lebih mudah beradaptasi dengan terapi detoks, 1-2
minggu sebelum melakukan program detoks sebaiknya Anda mulai:
o Mengurangi makanan berlemak tinggi, seperti makanan gorengan,
makanan bersantan, protein hewani (termasuk susu ternak), dan
karbohidrat olahan terutama yang mengandung terigu dan gula pasir
(termasuk minuman soda).
o Membatasi garam
o Menghindari alkohol, kafein, dan obat-obatan yang tak perlu
o Menghindari semua jenis makanan olahan industri (kalengan,
instan, dll)
Pola makan pra-detoks ini juga bermanfaat menurunkan reaksi detoks
yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Mencoba ‘mencuri’ kesempatan
mengkonsumsi makanan/minuman yang harus dihindari, dapat menghambat
proses detoks yang sedang berjalan selama beberapa jam.
JENIS MAKANAN
Program detoks ini hanya memperkenalkan 5 jenis buah-buahan yang harus
dikonsumsi dalam bentuk jus. Mengapa harus jus? Karena dalam bentuk jus,
kandungan zat-zat gizi pada buah lebih mudah dicerna dan diserap tubuh.
Karena tidak banyak serat yang masuk, pada beberapa orang cara detoks
seperti ini juga dapat menimbulkan sembelit (sulit buang air besar/BAB).
Untuk mengatasinya, dapat dilakukan enema (merangsang gerakan
peristaltis usus dengan memasukkan cairan melalui anus) atau kolon
hidroterapi di klinik khusus. Tetatpi jika Anda banyak minum air putih
di antara waktu minum jus buah, risiko sembelit sangat kecil.
Jenis buah yang dibolehkan dalam program detoks ini hanya pepaya, apel,
mangga, semangka, nanas, dan jeruk nipis/lemon. Pilih buah yang segar
dan sudah matang. Tidak perlu buah impor, karena semakin dekat tempat
tumbuh buah dengan tempat kita, kualitas gizinya semakin baik untuk
tubuh kita. Sedapat mungkinpilih buah-buahan organik (tidak tercemar
pestisida dan zat-zat kimia lainnya).
Jenis buah yang dikonsumsi dalam satu hari harus sama. Misalnya hari
pertama hanya jus pepaya saja sepanjang hari, lalu hari berikutnya hanya
jus semangka saja, dan seterusnya. Cara mengkonsumsi buah seperti ini
hanya untuk memudahkan pengaturan pH dalam tubuh. (Tambahan dari Wied
Harry: Untuk jeruk nipis/lemon, peras airnya lalu campurkan ke dalam air
masak.)
REAKSI TUBUH SELAMA DETOKS
Selain reaksi-reaksi seperti penyakit, selama detoks tubuh akan
memberikan reaksi-reaksi lain yang sering mengejutkan bagi pemula.
Bentuk reaksi dan kapan munculnya reaksi-reaksi tersebut tidak sama pada
setiap orang.
Reaksi-reaksi tersebut antara lain:
* Warna urine lebih keruh dan berbau tajam. Bagi mereka yang
sepanjang hidupnya banyak mengkonsumsi obat-obatan farmasi, bau obat
akan ikut keluar bersama urine dan kotoran (feses).
* Sering buang angin dengan bau sangat menusuk.
* Muncul keinginan kuat pada makanan, padahal setelah hari ke-3
sebenarnya tubuh sudah tidak merasakan lapar lagi.
* Keluar banyak kotoran disertai lendir (mukus) yang cukup pekat.
Pada program detoks yang lebih panjang, tubuh akan mengeluarkan kotoran
dari lapisan sel yang paling dalam. Bentuk kotoran yang keluar biasanya
lebih pekat dan berwarna mulai dari kehijauan hingga kehitaman seperti
ter/aspal cair. Program detoks baru dapat dikatakan sempurna jika bentuk
kotoran yang keluar sudah normal dan tidak ada lagi kotoran yang
bentuknya seperti ter tersebut.
CATATAN PENTING
* Cara mengkonsumsi minuman/makanan apa pun tidak boleh
terburu-buru. Meskipun bentuknya cair, air dan jus buah tetap harus
diteguk pelan-pelan dan sedikit-sedikit saja. Jadi, tidak ditenggak
cepat-cepat, apalagi sekaligus. Minum atau makan terburu-buru dapat
menyebabkan beberapa proses yang harus dilakukan tubuh terhadap makanan,
terlewati. Makanan yang tidak terproses dengan baik akan mengalami
pembusukan sebelum waktunya. Padahal pembusukan makanan hanya boleh
terjadi dalam usus besar menjelang anus. Pembusukan dini biasanya sudah
terjadi di usus duabelas jari.
* Jus buah yang diminum setiap kali harus baru. Jadi, tidak boleh
membuat dan menyimpan jus untuk satu hari sekaligus, misalnya.
* Jangan menunda minum jus setelah jus dibuat. Kualitas gizi dan
energi pada jus buah akan berkurang setelah 20 menit, apalagi jika
dibiarkan terbuka dan terkena udara.
TIPs
* Sebaiknya tetap berolahraga teratur. Cukup olahraga ringan saja
seperti jalan kaki, lompat tali atau lompat-lompat kecil di atas
trampolin, yoga, taichi, atau chikung. Olahraga berguna melancarkan
sirkulasi darah dan getah bening, dan secara tidak langsung juga
melancarkan proses pengeluaran racun dari dalam tubuh.
* Boleh melakukan perawatan tubuh seperti pijat aromaterapi dan
luluran (body scrub atau penggelontoran kotoran dari permukaan kulit).
Rahasia Umur Panjang Orang Jepang
Posted on 1:07 AM in artikel kesehatan, Rahasia Umur Panjang Orang Jepang by Ana Widiastuti
HINGGA kini para pakar masih saja penasaran dengan rahasia umur panjang orang Jepang.
Rata-rata pria Jepang dapat mencapai umur 76,35 tahun dan wanitanya 82,84 tahun. Bandingkan dengan orang Swiss yang rata-rata pria 74,10 tahun dan wanita 80,90 tahun. Sedangkan orang Amerika hanya 72,30 tahun pada pria dan wanita 79,10 tahun.
Sejak Perang Dunia II hingga sekarang, bangsa Jepang telah memperpanjang rentang umur penduduknya hingga lebih dari 25 tahun. Menurut para peneliti dari The National Institute of Health and Nutrition, Dr Kazuo Kondo dan kawan-kawan, ada tiga faktor dominan yang mempengaruhi.
Faktor pertama adalah pola makan orang Jepang, yang bila dilihat dari segi gizi makro terdiri dari protein, lemak, dan karbohidrat dengan komposisi 15 persen, 25 persen, dan 58 persen dari energi total (sekitar 2.023 kalori per kapita).
Kebutuhan lemak yang dipenuhi dari kekayaan lautnya, berasio asam lemak omega 6/omega 3 yaitu sekitar 4. Rasio asam lemak tak jenuh/jenuh adalah 1:1. Sementara rasio konsumsi asam lemak tak jenuh ganda dengan asam lemak tak jenuh tunggal dan asam lemak jenuh 1:1,5:1.
Bila rata-rata konsumsi 70 gr lemak sehari, maka rasio itu optimal berkolerasi dengan usia harapan hidup orang Jepang.
Peran antioksidan
Faktor kedua yang juga mempengaruhi adalah peranan antioksidan yang tercukupi dalam pola konsumsi sehari-hari masyarakat Jepang. Zat-zat antioksidan banyak terdapat dalam menu makanan masyarakat Jepang seperti sayur, buah, atau minuman seperti teh hijau yang banyak mengandung polifenol dan katecin.
Efek antioksidan dari vitamin E, vitamin C, dan beta karoten dapat menangkal terjadinya oksidasi LDL (low density lipoprotein) yang dapat memacu terjadinya proses penyempitan pembuluh darah (atherosklerosis). Zat antioksidan yang dapat menangkal senyawa radikal bebas, membantu menurunkan risiko terkena penyakit degeneratif.
Beberapa publikasi kedokteran melaporkan kaitan teori radikal bebas dengan kurang lebih 60 macam penyakit degeneratif menahun seperti jantung koroner, kanker, proses penuaan dan lainnya. Ternyata khasiat antioksidan banyak ditemukan dalam senyawa zat-zat bioaktif fitokimia yang dikandung oleh rempah-rempah dan bumbu tradisional seperti bawang putih, bawang merah, jahe, kunyit serta bahan makanan tradisional lain seperti tempe dan tahu.
Tempe misalnya, mengandung isoflavon dan superoksidismutase (SOD) yang sangat potensial sebagai antioksidan. Profesor Charles Hennekens dari Harvard Medical School, Amerika, melalui meta-analisis studi-studi epidemologi membuktikan, seseorang yang mengkonsumsi vitamin antioksidan (vitamin E, vitamin C, dan beta karoten) berisiko 20-40 persen lebih rendah terkena penyakit jantung koroner.
Paradoks Jepang
Namun kalau kedua faktor di atas bisa dijelaskan kaitan ilmiahnya dengan kesehatan secara signifikan, maka faktor ketiga ini: rokok, agak kontroversial karena selama ini justru dikenal sebagai pemicu berbagai penyakit. Tidak heran bila para ahli menyebutnya sebagai fenomena Japanesse paradox.
Bayangkan, kebiasaan merokok penduduk Jepang adalah 58,8 persen pada pria dan 15,2 persen wanita.
Diduga, ada satu faktor baru yang unik yaitu faktor genetik sebagai salah satu jawaban mengapa terjadi interaksi yang khas pada faktor-faktor di atas pada bangsa Jepang.
Salah satu faktor genetik itu dapat diterangkan adalah sebagai berikut. Suatu ikatan yang disebut CETP atau Cholesterol Ester Transfer Protein, mengatur metabolisme HDL (high density lipoprotein) dan berfungsi mengubah ester kolesterol dari HDL merupakan "kolesterol baik" ke LDL yang "kolesterol buruk".
Bila CETP berkurang, maka HDL meningkat atau sebaliknya. Bila LDL meningkat maka akan memicu terjadinya proses atherosklerosis. Dua jenis CETP mutasi genetik yang dikenal adalah intron 14 "splicing site G" menjadi mutasi A, sedangkan yang lainnya disebut exon 15 D menjadi mutasi G "missense".
Keberadaan CETP ini berperan dalam mengubah jenis kolesterol baik LDL atau kolesterol buruk LDL berdasarkan perubahan prototipe mutasi genetik yang merupakan ciri-ciri indikator biologis (biomarker) khas Jepang. Bagi Indonesia, belum diketahui secara pasti aspek biokimia dari pola genetik masyarakatnya.
Bangsa Jepang juga dikenal sebagai pekerja keras, ulet dan workalcoholic. Ditinjau dari sifat ini, maka faktor stres ikut mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Namun dengan proteksi kadar konsentrasi tinggi antioksidan dari pola makan serta sumber suplemen makanan kesehatan yang konon 80 persen dikonsumsi rakyatnya, mereka terhindar dari penyakit-penyakit degeneratif yang lebih parah.
Cadangan antioksidan ini dapat menutupi kehilangan akibat stres seperti asam amino tertentu, vitamin C, vitamin E dan lainnya.
Belajar dari Jepang
Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari Jepang untuk dapat berumur panjang, sehat, tetapi juga menjadi bangsa yang maju dan hebat di Asia?
Bila dibandingkan dengan masyarakat Indonesia, maka kita dapat mencontoh pola makannya yang beragam dengan kandungan antioksidan tinggi, ditambah dengan konsumsi asam lemak esensial serta protein yang secara kualitatif dan kuantitatif memadai.
Bila disimak, meski potensi sumber daya laut Indonesia begitu kaya, pola konsumsi makanan sebagian terbesar masyarakat Indonesia masih bercirikan agraris yang bertumpu pada "beras-sentris".
Statistik nasional menunjukkan bangsa Indonesia mengkonsumsi ikan dan produk laut sangat sedikit, sepersepuluh sampai seperlima tingkat konsumsi bangsa Jepang (14-16 kg/kapital/tahun berbanding 75-160 kg/kapita/tahun). Jadi ikan baru memberi sumbangan energi sekitar 2 persen dan protein 15 persen dari masukan energi dan protein sehari-hari.
(Darwin Karyadi,Guru Besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor)
Antioksidan Resep Sehat & Umur Panjang
Posted on 1:07 AM in artikel kesehatan, SOD, umur by Ana Widiastuti
Jakarta, Minggu
|
Untuk mendapatkan tubuh sehat dan umur panjang, orang melakukan banyak hal. Mulai dari olahraga, menyantap makanan tambahan, sampai bedah kosmetik untuk mengencangkan kulit yang mulai keriput.
Padahal itu hanya permukaan. Yang lebih penting justru bagaimana kita memerangi radikal bebas yang merusak tubuh dari dalam. Antara lain dengan antioksidan seperti dituturkan oleh ahli gizi, dr. Elvina Karyadi, M.Sc., di bawah ini.
Mewujudkan kualitas hidup yang baik di usia lanjut memang tidak mudah tanpa didukung usaha sejak dini di usia muda.
Saat ini kelebihan gizi yang mengakibatkan tingginya prevalensi penyakit degeneratif seperti jantung, kanker, kencing manis, rematik sudah dirasakan sampai di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Belum lagi akibat yang ditimbulkan oleh lingkungan tercemar, kesalahan pola makan dan gaya hidup yang justru merangsang tumbuhnya radikal bebas (free radical) yang merusak tubuh kita.
Kondisi ini mendorong para peneliti baik ahli gizi maupun dokter menggali teori dasar radikal bebas serta mencari bagaimana cara mengendalikan produksi radikal bebas pada tubuh kita. Penelitian di bidang gizi ortomolekuler pada tingkat sel membuktikan, antioksidan dapat melindungi jaringan tubuh dari efek negatif radikal bebas. Ternyata, gangguan atau ketidakmampuan sistem antioksidan tubuh inilah yang menyebabkan berbagai macam penyakit degeneratif.
Apa itu radikal bebas?
- Radikal bebas merupakan atom atau molekul yang sifatnya sangat tidak stabil (mempunyai satu elektron atau lebih yang tanpa pasangan), sehingga untuk memperoleh pasangan elektron senyawa ini sangat reaktif dan merusak jaringan.
Senyawa radikal bebas tersebut timbul akibat berbagai proses kimia kompleks dalam tubuh, berupa hasil sampingan dari proses oksidasi atau pembakaran sel yang berlangsung pada waktu bernapas, metabolisme sel, olahraga yang berlebihan, peradangan atau ketika tubuh terpapar polusi lingkungan seperti asap kendaraan bermotor, asap rokok, bahan pencemar, dan radiasi matahari atau radiasi kosmis.
Karena secara kimia molekulnya tidak lengkap, radikal bebas cenderung "mencuri" partikel dari molekul lain, yang kemudian menimbulkan senyawa tidak normal dan memulai reaksi berantai yang dapat merusak sel-sel penting dalam tubuh. Radikal bebas inilah biang keladi berbagai keadaan patologis seperti penyakit lever, jantung koroner, katarak, penyakit hati dan dicurigai proses penuaan dini ikut berperan.
Sebenarnya, reaksi pembentukan radikal bebas merupakan mekanisme biokimia tubuh normal. Radikal bebas lazimnya hanya bersifat perantara yang bisa dengan cepat diubah menjadi substansi yang tak lagi membahayakan tubuh. Namun, bila radikal bebas sempat bertemu dengan enzim atau asam lemak tak jenuh ganda, maka merupakan awal dari kerusakan sel yang antara lain:
Kerusakan DNA (deoxy nucleic acid) pada inti sel
Senyawa radikal bebas merupakan salah satu faktor penyebab kerusakan DNA di samping penyebab lain seperti virus, radiasi, dan zat kimia karsinogen. Bila kerusakan tidak terlalu parah, masih dapat diperbaiki oleh sistem perbaikan DNA. Namun, bila sudah menyebabkan rantai DNA terputus di berbagai tempat, kerusakan ini tidak dapat diperbaiki lagi sehingga pembelahan sel akan terganggu. Bahkan terjadi perubahan abnormal yang mengenai gen tertentu dalam tubuh yang dapat menimbulkan penyakit kanker.
Kerusakan membran sel
Komponen terpenting membran sel mengandung asam lemak tak jenuh ganda yang sangat rentan terhadap serangan radikal bebas. Kalau ini terserang struktur dan fungsi membran akan berubah yang dalam keadaan ekstrem akhirnya mematikan sel-sel pada jaringan tubuh.
Kerusakan protein
Terjadinya kerusakan protein akibat serangan radikal bebas ini termasuk oksidasi protein yang mengakibatkan kerusakan jaringan tempat protein itu berada. Contohnya kerusakan protein pada lensa mata yang mengakibatkan katarak.
Kerusakan lipid peroksida
Ini terjadi bila asam lemak tak jenuh terserang radikal bebas. Dalam tubuh kita, reaksi antarzat gizi tersebut dengan radikal bebas akan menghasilkan peroksidasi yang selanjutnya dapat menyebabkan kerusakan sel, yang dianggap salah satu penyebab terjadinya berbagai penyakit degeneratif (kemerosotan fungsi tubuh).
Proses ketuaan.
- Umumnya, semua sel jaringan organ dapat menangkal serangan radikal bebas karena di dalamnya terdapat sejenis enzim khusus yang mampu melawan.
Namun, karena manusia secara alami mengalami degradasi seiring dengan peningkatan usia akibat radikal bebas itu sendiri, otomatis pemusnahannya tidak pernah mencapai 100% meski secara teori dapat dipunahkan oleh berbagai antioksidan. Belum lagi adanya rangsangan untuk membentuk radikal bebas yang berasal dari lingkungan sekitar. Karena itu, secara perlahan-lahan tapi pasti, terjadi kerusakan jaringan oleh radikal bebas yang tidak terpunahkan.
Kerusakan jaringan secara pelan ini merupakan proses terjadinya ketuaan, seperti kehilangan elastisitas jaringan kolagen dan otot sehingga kulit tampak keriput, terjadinya lipofuchsin atau bintik-bintik pigmen kecoklatan di kulit yang merupakan timbunan sisa pembakaran dalam sel. Yang ingin awet muda tentu perlu banyak mengkonsumsi zat gizi yang meminimalkan efek radikal bebas ini.
Dapat menimbulkan autoimun
Dalam keadaan normal, antibodi hanya terbentuk bila ada antigen yang masuk dalam tubuh. Autoimun adalah terbentuknya antibodi terhadap suatu sel tubuh biasa dan hal ini dapat merusak jaringan tubuh dan sangat berbahaya.
Antioksidan pelindung kesehatan
Tanpa disadari dalam tubuh kita secara terus-menerus terbentuk radikal bebas melalui peristiwa metabolisme sel normal, peradangan, kekurangan gizi dan akibat respons terhadap pengaruh dari luar tubuh: polusi lingkungan, ultraviolet, asap rokok, dll.
Sebab itu tubuh kita memerlukan suatu substansi penting yakni antioksidan yang dapat membantu melindungi tubuh dari serangan radikal bebas dengan meredam dampak negatif senyawa ini.
Sistem antioksidan tubuh sebagai mekanisme perlindungan terhadap serangan radikal bebas, secara alami telah ada dalam tubuh kita. Dari asal terbentuknya, antioksidan ini dibedakan menjadi dua yakni intraseluler (di dalam sel) dan ekstraseluler (di luar sel) atau pun dari makanan. Dari sini antioksidan tubuh bisa dikelompokkan menjadi 3 yakni:
Antioksidan primer
Antioksidan primer ini bekerja untuk mencegah pembentuk senyawa radikal bebas baru. Ia mengubah radikal bebas yang ada menjadi molekul yang berkurang dampak negatifnya, sebelum radikal bebas ini sempat bereaksi. Contoh antioksidan ini adalah enzim SOD yang berfungsi sebagai pelindung hancurnya sel-sel dalam tubuh serta mencegah proses peradangan karena radikal bebas. Enzim SOD sebenarnya sudah ada dalam tubuh kita. Namun bekerjanya membutuhkan bantuan zat-zat gizi mineral seperti mangan, seng, dan tembaga. Selenium (Se) juga berperan sebagai antioksidan. Jadi, jika ingin menghambat gejala dan penyakit degeneratif, mineral-mineral tersebut hendaknya tersedia cukup dalam makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Antioksidan sekunder
Antioksidan ini berfungsi menangkap senyawa serta mencegah terjadinya reaksi berantai. Contoh antioksidan sekunder: vitamin E, vitamin C, beta karoten, asam urat, bilirubin, dan albumin.
Antioksidan tersier
Antioksidan jenis ini memperbaiki kerusakan sel-sel dan jaringan yang disebabkan radikal bebas. Contoh enzim yang memperbaiki DNA pada inti sel adalah metionin sulfoksidan reduktase. Adanya enzim-enzim perbaikan DNA ini berguna untuk mencegah penyakit kanker, misalnya.
Hasil berbagai penelitian dengan menggunakan hewan percobaan telah mendukung teori bahwa mengkonsumsi antioksidan yang memadai dapat mengurangi terjadinya berbagai penyakit seperti kanker, kardiovaskuler, katarak serta penyakit degeneratif lain.
Anggur merah vs jantung koroner
- Lebih dari 200 penelitian secara epidemiologi menyatakan, diet makanan yang mengandung beta karoten dapat menurunkan risiko penyakit kanker.
Beta karoten konon mampu mecegah kerusakan sel normal dari sel ganas dengan cara meningkatkan keutuhan sel-sel normal dan mengusahakan agar sel-sel kanker tersebut bertindak sebagai sel normal.
Vitamin C juga berperan dalam menurunkan risiko kanker saluran pencernaan. Dikatakan pula adanya hubungan antara asupan vitamin E yang rendah dan risiko kanker payudara, paru-paru, tenggorokan, dan mulut.
Beberapa studi mengungkapkan peranan antioksidan untuk mencegah penyakit jantung. Oksidasi LDL (low density lipoprotein) menyebabkan kerusakan dinding pembuluh arteri yang berarti proses awal dari aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah arteri).
Pertahanan antioksidan secara alami dalam LDL kolesterol dengan jumlah yang cukup dapat melindungi LDL dari proses oksidasi tapi masih dipertanyakan apakah perlindungan ini terjamin pada setiap orang. Antioksidan alam terbanyak dalam LDL adalah vitamin E. Sehingga penambahan suplemen vitamin E dalam makanan dapat meningkatkan kandungan vitamin E dalam LDL serta meningkatkan perlindungan terhadap proses oksidasi. Beta karoten merupakan antioksidasi yang cukup kuat yang secara teoritis juga dapat melindungi oksidasi LDL.
Anggur merah telah terbukti dapat mencegah penyakit jantung koroner karena kandungan flavonoidnya. Sebagai contoh, Prancis, dibandingkan negara Eropa lain atau Amerika, jumlah penderita PJK-nya lebih kecil (dikenal dengan istilah the French paradox) karena suka sekali minuman anggur merah. Padahal konsumsi lemak mereka lebih besar, lebih banyak merokok dan kurang bergerak. Anggur merah memang mempunyai kandungan senyawa fenol lebih tinggi daripada anggur putih. Fenol ini mempunyai efek kardioprotektif (flavonoid) yakni antioksidan yang sangat kuat. Ia dapat mencegah oksidasi LDL 20x lebih kuat dari vitamin E.
Senyawa flavonoid ini telah terbukti secara in vitro mempunyai efek biologis yang sangat kuat sebagai antioksidan, menghambat penggumpalan keping-keping sel darah, merangsang produksi oksidasi nitrit yang dapat melebarkan (relaksasi) pembuluh darah dan juga menghambat pertumbuhan sel kanker.
Sayangnya, flavonoid pada anggur dan sayuran bentuknya kompleks sehingga sangat sulit dicerna dan diserap. Sedangkan pada saat fermentasi anggur merah, kompleks ini terurai sehingga mudah diserap tubuh. Ditambah lagi adanya alkohol (10%) dalam anggur membuat kandungan flavonoid stabil.
Berdasarkan penelitian, paparan senyawa radikal bebas, sinar ultraviolet, dan asap rokok dapat menyebabkan oksidasi protein pada lensa mata sehingga lama-kelamaan menimbulkan katarak. Penelitian epidemiologis menyatakan, katarak meningkat di negara-negara yang tinggi kebiasaan merokok serta paparan sinar mataharinya.
Asupan vitamin C dan E yang rendah pada diet makanan disertai kadar vitamin C yang rendah dalam darah, akan mempermudah seseorang terkena katarak (kekeruhan lensa mata). Apalagi ditambah dengan kebiasaan merokok.
Kasiat tempe dan ikan laut
- Selain berbentuk zat gizi seperti vitamin C dan D, antioksidan dapat pula berupa zat non-gizi seperti pigmen (karoten, likopen, flavonoid, klorofil) dan enzim (glutation peroksida, koenzim, Q-10 atau ubiquinon).
Karoten banyak pada wortel, ubi rambat, semangka, bayam, kangkung, jeruk. Likopen pada tomat. Flavonoid pada wortel, jeruk, brokoli, kol, mentimun, bayam, tomat, merica dan terung.
Bila konsumsi mineral seperti seng, selenium, tembaga, vitamin E dan C serta beta karoten cukup, maka tidak diperlukan suplemen. Suplemen berupa pil, kapsul, dll hanya diberikan bila makanan berantioksidannya belum memenuhi angka kebutuhan gizi yang dianjurkan.
Dalam makanan sehari-hari antioksidan banyak terdapat dalam sayuran dan buah-buahan. Sedangkan tempe dan ikan laut dapat memusnahkan atau meminimalkan pembentukan radikal bebas.
Selama lebih dari setengah abad antioksidan telah dimanfaatkan dalam pengolahan pangan untuk menghambat kerusakan makanan. Biasanya antioksidan ini ditambahkan pada makanan yang mengandung lemak atau minyak, buah segar atau sayuran agar tidak cepat rusak. Senyawa ini juga dapat untuk mencegah perubahan warna dan rasa yang disebabkan oksigen di udara (pada apel, pisang yang mengandung enzim tertentu).
Selain pada bahan makanan, antioksidan seperti vitamin E juga sebagai suplemen diet untuk mengatasi proses oksidasi dalam tubuh. Belakangan malah antioksidan digunakan dalam produk kosmetik. *
Antioksidan, Radikal Bebas, dan Penuaan
Posted on 1:06 AM in Antioksidan Radikal Bebas dan Penuaan, artikel kesehatan, SOD by Ana Widiastuti
KONSULTASI Dari Kongres Nefrologi (Ginjal) Sedunia
Posted on 1:04 AM in by Ana Widiastuti
KONSULTASIDari Kongres Nefrologi (Ginjal) Sedunia
Diasuh oleh: Tim Dokter RS MedirosKongres ke-3 Nefrologi yang diselenggarakan di Singapura mengambil tempat di Gedung Konvensi dan Ekshibisi yang sangat besar: Suntec Singapore. Peserta yang menghadiri Kongres tsb mencapai angka lebih dari 4.000, suatu jumlah yang besar sekali. Tidak mengherankan bila penyelenggaraan sesi ilmiah digelar secara paralel sampai dengan tujuh kelompok, misalnya pada tgl 27 Juni ada sesi: Pencegahan Penyakit Ginjal Diabetes, Hemodialisis, Transplantasi, Hipertensi, Gagal Ginjal Akut, Proses Inflamasi/peradangan, Obat baru Pengatur Fosfor .Beberapa informasi yang cukup menonjol dan menarik, kami sampaikan sebagai berikut :Hipertensi Hipertensi dapat terjadi pada pasien-pasien dengan gejala ”Sleep apnea”: yaitu pasien-pasien yang pada waktu tidur nafasnya berhenti pada saat saat tertentu. Selain itu dikemukakan dalam pengobatan Hipertensi, pasien memegang posisi sangat penting/kunci agar pengobatan berhasil. (Dr. J. Whitworth, Australia)Pada pasien yang Hipertensinya terkendali baik, terjadi penurunan fungsi ginjal yang alamiah, yaitu sebesar 1% per tahun. Sedangkan bila tidak terkendali, penurunan fungsi ginjal akan jauh lebih besar, tentunya juga tergantung pada faktor-faktor risiko lainnya. Bila sudah ada kebocoran protein di urin (proteinuria) maka kombinasi obat ACEI (Ace Inhibitor, seperti Captopril dsb) dan ARB (Angiotensin Receptor Blocker, seperti Valsartan dsb) akan memberi hasil yang lebih baik (Dr. Rodriguez-Iturbe, Venezuela)Pemberian obat anti kolesterol yaitu golongan Statin (misalnya Simvastatin, Atorvastatin dsb) akan mencegah kekakuan pembuluh darah yang sering timbul pada Hipertensi dan atau Dislipidemia (peninggian lemak darah, penurunan HDL kolesterol). Selain itu Statin jelas menurunkan gangguan jantung & pembuluh darah pada pasien-pasien Penyakit Ginjal Kronik (Chronic Kidney Disease) tingkat I s/d III (Prof. Wanner, Jerman)Asam urat ternyata dapat membuat gangguan pada pembuluh darah halus di ginjal dan akan menyebabkan timbulnya Hipertensi. Jadi asam urat tidak saja dapat mengganggu sendi, membentuk batu di ginjal, tetapi juga dapat menimbulkan Hipertensi. (Dr. Johnson, USA)Penyakit Glormerulonefritis Pada beberapa jenis penyakit saringan ginjal (Glomerulonefritis) memang dibutuhkan obat-obat Imunosupresif (mungkin lebih dikenal sebagai Obat Kanker) tetapi akan lebih baik bila dibantu oleh obat-obat Hipertensi seperti ACEI dan ARB, serta obat Statin. (Prof. Kincaid-Smith, Australia)Obat MMF (Cellcept) yang biasa dipakai pada pasien tranplantasi ginjal, sekarang juga dipakai pada penyakit Ginjal Lupus. Dipaparkan seorang pasien dengan Kreatinin tinggi dan kemudian menjalani Hemodialisis diberi pengobatan kombinasi steroid (Prednisone) dan MMF yang diberikan 1,5-2 g/hari dan kemudian dalam perjalanan diturunkan 1,5 g lalu 0,750 g/hari sampai dengan tahun ke 5. Hasilnya secara bertahap terjadi perbaikan fungsi ginjal dan akhirnya fungsi ginjalnya normal dengan Kreatinin 1,28 mg/dl. Selain itu hasil biopsi ginjal menunjukkan gambaran ginjal yang normal. Obat ini oleh peneliti lain juga dikatakan sebagai obat bermasa depan yang cerah bagi pasien Ginjal Lupus. (Prof. Lei-Shi Li, RRC)Penyakit Ginjal DiabetesPasien dengan Penyakit Ginjal Diabetes harus sedini mungkin memeriksakan diri agar pengobatan dapat (harus!!) dilakukan sedini mungkin, yaitu sebaiknya bila kebocoran albumin di urin masih normal. Bila kebocoran sudah diatas normal maka efek upaya proteksi akan berkurang. Selain obat anti Diabetes perlu diberikan kombinasi obat ACEI dan ARB serta obat Statin. Pada Ginjal Diabetes keadaan bisa terkendali stabil disebut sebagai remisi. Bila keadaan fungsi ginjal meningkat kembali disebut regressi. Pada penyakit Ginjal Diabetes bila tanpa pengobatan, penurunan fungsi ginjal akan sangat cepat yaitu penurunan dapat mencapai sebesar 20% per tahun, bayangkan dalam 4 tahun fungsi tinggal 20 %. Sedangkan dengan pengobatan yang baik, pada periode yang dinisekali, penurunan fungsi ginjal hampir seperti alamiah yaitu 2% per tahun. (Prof. Remuzzi, Italia)Transplantasi GinjalSuatu tindakan yang baru, sudah dimulai pada Pusat-pusat Transplantasi Ginjal yaitu mengambil ginjal dari Donor dengan Laparoskopi (Laparascopic Donor Nephrectomy = LDN). Di USA sudah 30% kegiatan transplantasi memakai cara ini, di negara-negara Skandinavia bahkan sudah 50% (Dr. P. Kuo, USA)Infeksi pada pasien transplantasi ginjal yang termasuk sukar diatasi adalah infeksi jamur. Pemakaian obat-obat yang sekarang mudah timbul resistensi. Obat baru adalah Caspofungin berupa injeksi dan kapsul, Micafungin, Voricomazole.Demikian beberapa informasi yang mudah-mudah cukup bermanfaat.Dr. Nico A. Lumenta, K.NefroKonsultan Ginjal-Hipertensi RS. Mediros
Copyright © Sinar Harapan 2003
Hati-hati Lahap Obat Pengurang Sakit
Posted on 1:04 AM in artikel kesehatan, Hati-hati Lahap Obat Pengurang Sakit by Ana Widiastuti
Hati-hati Lahap Obat Pengurang Sakit
Hati-hati Lahap Obat Pengurang Sakit
WASHINGTON - Mengonsumsi obat penghilang sakit sudah menjadi kebiasaan banyak orang. Padahal di baliknya ada risiko yang membahayakan kesehatan. Apa itu?Obat penghilang rasa sakit kini banyak dijual bebas. Sedikit sakit kepala atau gigi,cukup ke warung atau apotik, dan kita dapat obat itu. Tanpa resep dokter. Padahal sejumlah obat diidentifikasi memiliki efek negatif. Ahli medis AS belum lama ini menemukan bahwa penggunaan dosis tinggi obat penghilang sakit sejenis ibuproven dan tylenol bisa meningkatkan tekanan darah. Uniknya, ini hanya dialami oleh kaum perempuan saja.Efek yang sama tidak ditemukan dalam aspirin. Namun efek itu baru muncul setelah tiga hingga empat tahun penggunaan obat secara rutin.Hasil riset yang dipublikasikan di jurnal Hypertenson ini menambah daftar panjang bahwa obat pemerang sakit punya efek negatif. Ini berlaku bagi obat yang dengan resep dokter maupun dijual bebas. Ini berarti, setiap orang harus menggunakan obat sejenis itu dengan hati-hati.SurveiYang disebut sebagai obat berisiko itu termasuk juga jenis asetaminofen atau parasetamol, produksi Johnson & Johnson Co yang bermerek dagang Tylenol. “Dalam studi kami, perempuan yang mengonsumsi 500 miligram (mg) atau lebih asetaminofen per hari, ditemukan dua kali berisiko kena tekanan darah tinggi disbanding yang tidak mengonsumsi asetaminofen.” Jelas Dr. John Phillip Forman dari Harvard Medical School and Brigham and Women’s Hospital di Boston seperti yang dilansir Reuters baru-baru ini.Secara detail, studi itu menyebut, perempuan usia 51-77 tahun yang menggunakan ibuprofen 400 mg perhari memiliki risiko 80 persen menderita hipertensi dibanding yang tidak mengonsumsi obat ini. Sedangkan perempuan dalam usia lebih muda, 34-53 tahun yang melahap ibuproven sebanyak 400 mg per hari, punya risiko 60 persen lebih tinggi mengidap hipertensi ketimbang yang tidak.Studi yang dilakukan Forman beserta timnya ini melibatkan 1.903 perempuan berusia antara 51-77 tahun. Kelompok usia lebih muda adalah perempuan usia 34-53 tahun. Semua perempuan itu tidak mengidap tekanan darah tinggi sama sekali ketika studi mulai dilakukan. Kemudian studi dilakukan dengan mengajukan pertanyaan rutin mengenai aspek kesehatan dan gaya hidup, termasuk obat jenis apa yang serng mereka pakai. Semua jawaban dari mereka diamati dengan seksama. Pengamatan ini juga difokuskan pada obat-obat dengan resep dokter yang tergolong sebagai inhibitor COX-2. Obat ini terbukti meningkatkan potensi naiknya tekanan darah, stroke dan serangan jantung. Pasien yang menggunakan obat ini juga berisiko kena pendarahan perut.Waspada“Saya tidak menyarankan agar obat-obatan ini dilarang beredar. Orang yang menderita penyakit kronis memang semestinya mendapat penanganan atas penyakitnya,” ungkap Forman. “Namun kemungkinan banyak orang yang terus saja memakai obat-obat ini hanya karena rasa sakit yang kurang berarti. Mereka juga cenderung tidak mengindahkan anjuran dokter.”Selama ini obat pengurang rasa sakit banyak digunakan oleh mereka yang menderita sakit kepala, nyeri tulang atau jenis rasa sakit lain. Temuan ini setidaknya membuat mereka yang berlangganan obat sejenis itu bisa sedikit waspada, lebih berhati-hati dan alangkah baiknya kalau mengurangi dosisnya.Tekanan darah yang meningkat berarti sama saja dengan peningkatan risiko terkena stroke, serangan jantung dan gagal jantung. Semuanya itu merupakan penyakit yang banyak diderita penduduk Paman Sam.Aspirin tergolong obat yang justru bisa mencegah penyakit jantung apabila dibanding pemerang rasa sakit lainnya. Ada juga obat lain yang cukup aman dikonsumsi, yakni jenis Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDS). Asetaminofen, walau berbahaya bagi tekanan dara, masih tergolong aman untuk jantung. Tapi Forman menyatakan obat-obat ini justru bisa berpengaruh pada fungsi endothelial, yakni kinerja saluran darah. NSAIDS, mempengaruhi komponen yang diproduksi dalam tubuh yang bernama prostaglandins.“Walaupun aspirin juga adalah sintesa inhibit prostaglandin, obat ini tidak terkait dengan disfungsi endothelial. Secara kontras, aspirin justru meningkatkanfungsi endothelial seperti yang pernah terjadi pada banyak kasus pasien ateroklerosis,” jelas Forman. (mer)
Copyright © Sinar Harapan 2003